Monday, November 6, 2017

MAKALAH KONFORMITAS DAN KETAATAN



BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
. Konformitas adalah sikap patuh tetapi lebih kepada mengalah atau mengikuti tekanan dari kelompok. Selain itu, konformitas juga adalah perilaku seseorang yang sama (seragam) dengan perilaku orang lain atau perilaku kelompoknya. Definisi konformitas mengandung tiga hal, yaitu: patuh, perceived group pressure, dan subjek tidak diminta untuk patuh. Jadi, apabila seseorang menampilkan perilaku tertentu karena setiap orang lain menampilkan perilaku tersebut dikatakan konformitas. Maka dari itu, kami akan membahas tentang materi konformitas dan ketaatan.
2.      Tujuan
1.      Mengetahui pengertian dari konformitas dan ketaatan.
2.      Mengetahui mengapa orang-orang menjadi konform.
3.      Mengetahui respon non conformity.
4.      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi konformitas.
5.      Mengetahui perbedaan individu dalam konformitas.
3.      Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari konformitas dan ketaatan?
2.      Mengapa orang-orang menjadi konform?
3.      Apa saja respon non conformity?
4.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi konformitas?
5.      Bagaimana perbedaan individu dalam konformitas?
BAB II
ISI
1.        Konformitas
1.1  Pengertian Konformitas
Konformitas adalah sikap patuh tetapi lebih kepada mengalah atau mengikuti tekanan dari kelompok. Selain itu, konformitas juga adalah perilaku seseorang yang sama (seragam) dengan perilaku orang lain atau perilaku kelompoknya. Definisi konformitas mengandung tiga hal, yaitu: patuh, perceived group pressure, dan subjek tidak diminta untuk patuh. Jadi, apabila seseorang menampilkan perilaku tertentu karena setiap orang lain menampilkan perilaku tersebut dikatakan konformitas.
1.2  Eksperimen Solomon Asch (1951, 1956, 1958)
 
Standar line target                                 1     2   3
-         12 trial
-         N = 50
-         respon conformity 32% atau 3,84 kali dari 12 trial
1.3  Mengapa Orang Menjadi Konform?
Morton Deutch dan Harold Gerald (1955) :
a.       Informational Influence, bahwa kelompok merupakan presentasi fakta atau pengetahuan tentang situasi. Kelompok merupakan sumber informasi yang objektif.
b.      Normative Influence
-         tekanan untuk mengikuti kelompok
-         tekanan sosial berasal dari norma-norma kelompok, seperti loyalitas, solidaritas
-         ingin mencapai seperti anggota kelompok
-         tidak ingin kelihatan berbeda
c.       Self Categorization (Dominic Abrams & Michael Hogg, 1990), usaha untuk memelihara konsep atau identitas diri sebagai anggota kelompok.
1.4  Respon Non Conformity
Terdapat dua respon non conformity, yaitu:
a.       Independence
-         tingkah laku “tidak responsif” terhadap kelompok
-         tingkah laku bebas dari norma-norma kelompok
b.      Anti conformity atau Counterconformity
-         oposisi yang konsisten terhadap norma kelompok
-         dilakukan anti konformis untuk memelihara konsep diri mereka
1.5  Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Konformitas
a.       Ukuran Kelompok
-         pengaruh menguat
-         makin banyak anggota yang “rela” patuh pada norma kelompok
b.      Unanimous
-         kelompok sepakat atau kelompok tidak saling berbeda pendapat, misalnya : parpol, MPR/DPR
1.6  Perbedaan Individual Dalam Konformitas
a.       Non – Conformist
-         independent, efektif secara intelektual, egostrength kuat, kepemimpinan dan hubungan sosial baik, tidak rendah diri, rigid, otoriter
b.      Orang yang Konform
-         memiliki need for afiliation yang besar (Mc Ghee & Trevan, 1967)
-         mengandalkan kelompok sebagai sumber informasi mereka (Champbel,1986)
-         self blame, ragu
1.7  Zimbardo & Leippe (1991)
-         Wanita lebih konform daripada pria
-         Pria lebih luas jalur informasinya
-         wanita dan pria konform bila informasi tentang sesuatu kurang lengkap
-         wanita lebih konform pada situasi interaksi tatap muka
-         dalam situasi tekanan kelompok, wanita lebih konform
-         supaya wanita lebih independent maka harus memperluas jalur informasi
2.        Ketaatan
2.1  Pengertian Ketaatan
Ketaatan adalah perilaku yang ditampakan oleh individu meskipun mereka lebih tidak suka menampilkanya dikarenakan adanya tuntutan yang mengharuskan individu tersebut melakukanya. Ketaatan atau kepatuhan adalah suatu bentuk pengaruh sosial dimana seseorang hanya perlu memerintahkan satu orang lain atau lebih untuk melakukan satu atau beberapa tindakan. Ada beberapa hal yang perlu diketahui mengenai kepatuhan, antara lain:
1.      Secara nalar, kepatuhan adalah bentuk paling langsung dari pengaruh sosial.
2.      Kepatuhan lebih jarang terjadi dibandingkan konformitas dan kesepakatan.
3.      Lebih sering terjadi dalam setting khusus dalam institusi tertentu seperti sekolah hingga ke militer.
4.      Penelitian Stanley Milgram mengindikasikan bahwa banyak orang bersedia untuk mematuhi perintah dari sumber otoritas yang relatif tidak berkuasa, bahkan jika perintah tersebut meminta mereka menyakiti orang asing yang tidak bersalah.
5.      Kepatuhan yang merusak sangat memainkan peran dalam kehidupan nyata. Sebagai contoh, kepatuhan tentara Jerman dalam melenyapkan jutaan warga sipil dari ras tertentu saat Perang Dunia Dua.
6.      Sejumlah strategi dapat membantu mengurangi terjadinya kepatuhan yang merusak. Yang termasuk di dalamnya di antaranya adalah mengingatkan individu bahwa mereka turut bertanggung jawab atas segala kerusakan yang ditimbulkan, mengingatkan bahwa kepatuhan melebihi kewajaran tidaklah tepat dan mempertanyakan motif figur otoritas.
2.2  Eksperimen Milgram (1963)
o  Mengumpulkan 40 orang untuk mengetahui pengaruh hukuman terhadap prestasi. Kemudian 20 orang menjadi guru dan 20 orang menjadi murid.
o  Didepan guru, duduk murid dan ditengah-tengah ditaruh bel listrik yang tegangannya dari rendah ke tinggi. Bel itu akan menyetrum murid apabila ia melakukan kesalahan (memberikan shock).
o  Dari guru-guru itu ada guru yang tentu memberikan shock sampai murid menunjukkan kesakitan. Dan kalau perlu menambahkan tegangannya.
o  Dasar eksperiment : manusia membutuhkan struktur yang jelas (perintah dari otoritas yang diakui) untuk bergerak dengan cara patuh pada peraturan yang ada.
2.3  Eksperiment Milgram (1965, 1974) :
o  orang dapat kejam karena pengaruh situasi
o  orang baik pun dapat berbuat jahat
2.4  Eksperiment Zimbardo
Membuat penjara-penjara buatan lalu diiklankan untuk mencari subjek penelitian dari mahasiswa. Penelitian direncanakan diadakan selama 2 minggu dengan imbalan uang. Subjek dijemput dirumahnya menggunakan mobil bersirine dan diborgol. Dalam waktu 3 hari mulai terjadi pemukulan yang dilakukan oleh sipir kepada tahanan.
o  Pemukulan tersebut sudah sangat kejam sehingga ketika baru berjalan seminggu, penelitian tersebut dihentikan. Hal ini terjadi, karena:
o  adanya kekuasaan
o  kekuasaan dijadikan sebagai identitas dirinya


BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
. Konformitas adalah sikap patuh tetapi lebih kepada mengalah atau mengikuti tekanan dari kelompok. Selain itu, konformitas juga adalah perilaku seseorang yang sama (seragam) dengan perilaku orang lain atau perilaku kelompoknya. Definisi konformitas mengandung tiga hal, yaitu: patuh, perceived group pressure, dan subjek tidak diminta untuk patuh. Ketaatan adalah perilaku yang ditampakan oleh individu meskipun mereka lebih tidak suka menampilkanya dikarenakan adanya tuntutan yang mengharuskan individu tersebut melakukanya. Ketaatan atau kepatuhan adalah suatu bentuk pengaruh sosial dimana seseorang hanya perlu memerintahkan satu orang lain atau lebih untuk melakukan satu atau beberapa tindakan.
2.      Saran
Seperti yang kita ketahui dari penjelasan konformitas dan ketaatan di atas, kami berharap bahwa masyarakat atau pembaca dapat bersikap dengan baik kepada sesama.




DAFTAR PUSTAKA
Sarwono, Sarlito Wirawan.2005.Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka
Klara Inata Arishanti.2006.Handout Psikologi Sosial. Depok: Universitas Gunadharma
Umi Kulsum, dkk.2014.Pengantar Psikologi Sosial. Jakarta: Prestasi Pusakaraya

MAKALAH PRASANGKA SOSIAL



BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Prasangka dibatasi sebagai sifat negatif yang tidak dapat dibenarkan terhadap suatu kelompok dan individu anggotanya. Maka dari itu, dalam makalah ini kami akan membahas lebih lanjut tentang prasangka sosial, baik itu ciri-ciri, maupun dampak dari prasangka sosial.
1.2    Tujuan
1.      Mengetahui pengertian dari prasangka sosial
2.      Mengetahui ciri-ciri prasangka sosial
3.      Mengerahui sumber-sumber sebab prasangka
4.      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi prasangka sosial
1.3    Rumusan Masalah
1.         Apakah pengertian dari prasangka sosial?
2.         Sebutkan cir-ciri prasangka sosial!
3.         Apa saja sumber-sumber sebab prasangka?
4.         Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi prasangka sosial?

5.       
BAB II
ISI
2.1  Pengertian Prasangka Sosial
Menurut Worchel dan kawan-kawan (2000), pengertian prasangka dibatasi sebagai sifat negatif yang tidak dapat dibenarkan terhadap suatu kelompok dan individu anggotanya. Prasangka (prejudice) merupakan perilaku negatif yang mengarahkan kelompok pada individualis berdasarkan pada keterbatasan atau kesalahan informasi terhadap kelompok. Prasangka juga dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang bersifat emosional, yang akan mudah sekali menjadi motivator munculnya ledakan sosial.
Menurut Mar’at (1981), prasangka sosial adalah dugaan-dugaan yang memiliki nilai positif atau negatif, tetapi biasanya lebih bersifat negatif. Sedangkan menurut Brehm dan Kassin (1993), prasangka sosial adalah perasaan negatif terhadap seseorang semata-mata berdasarkan pada keanggotaan mereka dalam kelompok tertentu. Menurut David O. Sears dan kawan-kawan (1991), prasangka sosial adalah penilaian terhadap kelompok atau seorang individu yang didasarkan pada keanggotaan kelompok tersebut, artinya prasangka sosial ditujukan pada orang atau kelompok orang yang berbeda dengannya atau kelompoknya. Prasangka sosial memiliki kualitas suka dan tidak suka pada objek yang diprasangkainya, dan kondisi ini akan mempengaruhi tindakan atau perilaku seseorang yang berprasangka tersebut.
2.2  Ciri-Ciri Prasangka Sosial
Ciri-ciri prasangka sosial menurut Brigham (1991) dapat dilihat dari kecenderungan individu untuk membuat kategori sosial (social categorization). Kategori sosial adalah kecenderungan untuk membagi dunia sosial menjadi dua kelompok, yaitu “kelompok kita” (in group) dan “kelompok mereka” (out group). Ciri-ciri dari prasangka sosial berdasarkan penguatan perasaan in group dan out group adalah:
1.      Proses generalisasi terhadap perbuatan anggota kelompok lain
Menurut Ancok dan Suroso (1995), jika ada salah seorang individu dari kelompok luar berbuat negatif, maka akan digeneralisasikan pada semua anggota kelompok luar. Namun hal tersebut tidak berlaku pada kelompok sendiri.
2.      Kompetisi sosial
Kompetisi sosial adalah suatu cara yang digunakan oleh anggota kelompok untuk meningkatkan harga dirinya dengan membandingkan kelompoknya dengan kelompok lain dan menganggap kelompok sendiri lebih baik daripada kelompok lain.
3.      Penilaian ekstrem terhadap anggota kelompok lain
Individu melakukan penilaian terhadap anggota kelompok lain baik penilaian positif ataupun negatif secara berlebihan. Biasanya penilaian yang diberikan berupa penilaian negatif.
4.      Pengaruh persepsi selektif dan ingatan masa lalu
Pengaruh persepsi selektif dan ingatan masa lalu biasanya dikaitkan dengan stereotip. Stereotip adalah keyakinan (belief) yang menghubungkan sekelompok individu dengan ciri-ciri sifat tertentu ataupun anggapan tentang ciri-ciri yang dimiliki oleh anggota kelompok luar. Jadi stereotip adalah prakonsepsi ide mengenai kelompok, suatu imej yang pada umumnya sangat sederhana, kaku, dan klise serta tidak akurat yang biasanya timbul karena proses generalisasi. Sehingga apabila ada seorang individu memiliki stereotip yang relevan dengan individu yang memersepsikannya, maka akan langsung dipersepsikan secara negatif.
5.      Perasaan frustasi (scope goating)
Menurut Brigham (1991), perasaan frustasi adalah rasa frustasi seseorang sehingga membutuhkan pelampiasan sebagai objek atas ketidakmampuannya menghadapi kegagalan. Kekecewaan akibat persaingan antar masing-masing individu dan kelompok menjadikan seseorang mencari pengganti untuk mengekspresikan frustasinya kepada objek lain.
6.      Agresi antar kelompok
Agresi biasanya timbul akibat cara berpikir yang rasialis, sehingga menyebabkan seseorang cenderung berperilaku agresif.
7.      Dogmatisme
Dogmatisme adalah sekumpulan kepercayaan yang dianut seseorang berkaitan dengan masalah tertentu, salah satunya adalah mengenai kelompok lain. Bentuk dogmatisme dapat berupa etnosentrisme dan favoritisme.
2.3  Sumber-Sumber Penyebab Prasangka Sosial
Sumber penyebab prasangka secara umum dapat dilihat berdasarkan tiga pandangan, yaitu:
1.      Prasangka sosial
Sumber prasangka sosial, antara lain:
a.       Ketidaksetaraan sosial
Ketidaksetaraan sosial ini dapat berasal dari ketidaksetaraan status dan prasangka serta agama dan prasangka. Ketidaksetaraan status dan prasangka merupakan kesenjangan atau perbedaan yang menggiring ke arah prasangka negatif. Agama juga menjadi salah satu sumber prasangka.
b.      Identitas sosial
Identitas sosial merupakan bagian untuk menjawab “siapa aku?” yang dapat dijawab bila kita memiliki keanggotaan dalam sebuah kelompok. Kita mengidentifikasikan diri kita dengan kelompok tertentu (in group), sedangkan ketika kita dengan kelompok lain cenderung memuji kebaikan kelompok kita sendiri.
c.       Konformitas
Konformitas juga merupakan salah satu sumber prasangka sosial. Menurut penelitian, orang yang berkonformitas memiliki tingkat prasangka lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak berkonformitas.
2.      Prasangka secara emosional
Prasangka dapat dipicu oleh:
a.       Frustasi dan agresi rasa sakit yang sering membangkitkan pertikaian
Salah satu sumber frustasi adalah adanya kompetisi. Ketika dua kelompok bersaing untuk memperebutkan sesuatu, misalnya pekerjaan, rumah, dan lain-lain.
b.      Kepribadian yang dinamis (status)
Agar dapat merasakan diri kita memiliki status, kita memerlukan adanya orang yang memiliki status dibawah kita. Salah satu kelebihan psikologi tentang prasangka adalah dengan adanya sistem status, yaitu perasaan superior
c.       Kepribadian otoriter
Emosi yang ikut berkontribusi terhadap prasangka adalah kepribadian diri yang otoriter.
3.      Prasangka kognitif
Memahami stereotip dan prasangka akan membantu memahami bagaimana otak bekerja. Selama sepuluh tahun terakhir, pemikiran sosial mengenai prasangka adalah kepercayaan yang telah distereotipkan dan sikap prasangka timbul tidak hanya karena pengondisian sosial, sehingga mampu menimbulkan pertikaian akan tetapi juga merupakan hasil dari proses pemikiran yang normal. Sumber prasangka kognitif dapat dilihat dari kategorisasi dan simulasi distinktif.
Menurut Blumer (dalam Zanden, 1984) salah satu penyebab terjadinya prasangka sosial adalah adanya perasaan berbeda dengan kelompok lain atau orang lain misalnya antara kelompok mayoritas dan kelompok minoritas. Berkaitan dengan hal di atas, Mar’at (1988) menguraikan bahwa prasangka sosial banyak ditimbulkan oleh beberapa hal sebagai berikut:
a.       Kekuasaan faktual yang terlihat dalam hubungan kelompok mayoritas dan kelompok minoritas
b.      Fakta akan perlakuan terhadap kelompok mayoritas dan minoritas.
c.       Fakta mengenai kesempatan usaha antara kelompok mayoritas dan minoritas. Fakta mengenai unsur geografis, dimana keluarga kelompok mayoritas dan minoritas menduduki daerah-daerah tertentu.
d.      Posisi dan peranan sosial ekonomi pada umumnya dikuasai kelompok mayoritas.
e.       Potensi energi eksistensi dari kelompok minoritas dalam mempertahankan hidupnya
2.4  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prasangka Sosial
Proses pembentukan prasangka sosial menurut Mar’at (1981) dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1.      Pengaruh kepribadian
Dalam perkembangan kepribadian seseorang, pembentukan prasangka sosial juga akan terlihat. Kepribadian otoriter mengarahkan seseorang membentuk suatu konsep prasangka sosial karena ada kecenderungan orang tersebut selalu merasa curiga, berpikir dogmatis, dan berpola pada diri sendiri.
2.      Pendidikan dan status
Semakin tinggi pendidikan seseorang dan semakin tinggi status yang dimilikinya, itu akan mempengaruhi cara berpikirnya dan akan mereduksi prasangka sosial.
3.      Pengaruh pendidikan anak oleh orang tua
Orang tua memiliki nilai-nilai tradisional yang dapat dikatakan berperan sebagai family ideology yang akan mempengaruhi prasangka sosial.
4.      Pengaruh kelompok
Kelompok memiliki norma dan nilai tersendiri dan akan mempengaruhi pembentukan prasangka sosial pada kelompok tersebut. Oleh karenanya, norma kelompok fungsi otonom dan akan banyak memberikan informasi secara realistis atau secara emosional yang mempengaruhi sistem sikap individu.
5.      Pengaruh politik dan ekonomi
Politik dan ekonomi sering mendominasi pembentukan prasangka sosial. Pengaruh politik dan ekonomi telah banyak memicu terjadinya prasangka sosial terhadap kelompok lain misalnya kelompok minoritas.
6.      Pengaruh komunikasi
Komunikasi memiliki peran penting dalam memberikan informasi yang baik dan komponen sikap akan banyak dipengaruhi oleh media massa seperti radio, televisi, yang kesemuanya akan mempengaruhi pembentukan prasangka sosial dalam diri seseorang.
7.      Pengaruh hubungan sosial
Hubungan sosial merupakan suatu media dalam mengurangi atau mempertinggi pembentukan prasangka sosial. Sehubungan dengan proses belajar sebagai sebab yang menimbulkan terjadinya prasangka sosial pada orang lain, maka dalam hal ini, orang tua dianggap sebagai guru utama karena pengaruh mereka paling besar pada tahap modelling pada usia anak-anak sekaligus menanamkan perilaku prasangka sosial kepada kelompok lain.
2.5  Teori-Teori Prasangka Sosial
1.      Teori konflik realistik
Teori ini memandang bahwa terjadinya kompetisi (biasanya persaingan memperoleh sumber-sumber langka, seperti ekonomi dan kekuasaan) dan konflik antar kelompok dapat meningkatkan kecenderungan untuk berprasangka dan mendiskriminasikan anggota out group.
2.      Teori belajar sosial
Menurut teori belajar sosial, prasangka adalah sesuatu yang dipelajari seperti halnya individu belajar nilai-nilai sosial yang lain. Prasangka biasanya diperoleh anak-anak melalui proses sosialisasi. Anak-anak banyak yang menginternalisasikan norma-norma mengenai stereotip dan perilaku antar kelompok yang ditetapkan oleh orang tua dan teman sebaya.
3.      Teori kognitif
Ini menjelaskan bagaimana cara individu berpikir mengenai prasangka (objek yang dijadikan sasaran untuk diprasangkai) dan bagaimana individu memproses informasi dan memahami secara subjektif mengenai dunia dan individu lain.
4.      Teori psikodinamika
Menurut teori psikodinamika, prasangka adalah agresi yang dialihkan. Pengalihan agresi terjadi apabila sumber frustasi tidak dapat diserang karena rasa takut dan sumber frustasi itu benar-benar tidak ada. Prasangka juga dapat timbul akibat terganggunya fungsi psikologis dalam diri individu tersebut. Berdasarkan teori psikodinamika, prasangka timbul karena adanya rasa frustasi dan kepribadian yang otoriter:
A.     Teori frustasi
B.     Kepribadian otoriter
5.      Teori kategorisasi sosial
Melalui kategorisasi sosial, kita membedakan diri kita dengan orang lain, keluarga kita dengan keluarga orang lain, kelompok kita dengan kelompok orang lain, etnik kita dengan etnik lain. Pembedaan kategori ini bisa berdasarkan persamaan atau perbedaan, misalnya persamaan tempat tinggal, garis keturunan, warna kulit, pekerjaan, kekayaan yang relatif sama dan sebagai akan dikategorikan dalam kelompok yang sama. Sedangkan perbedaan dalam warna kulit, usia, jenis kelamin, tempat tinggal, pekerjaan, tingkat pendidikan,  dan lainnya maka akan dikategorikan dalam kelompok yang berbeda.
6.      Teori perbandingan sosial
Konsekuensi dari pembandingan adalah adanya penilaian sesuatu lebih baik atau lebih buruk dari yang lain. Melalui perbandingan sosial, kita juga menyadari posisi kita di mata orang lain dan masyarakat.
7.      Teori biologi
Menurut pendekatan ini, prasangka memiliki dasar biologis. Hipotesisnya, yakni kecenderungan untuk tidak menyukai kelompok lain dan hal-hal lain yang bukan milik kita merupakan warisan yang telah terpetakan dalam gen kita. Asumsi dari teori ini yakni, gen akan memastikan kelestariannya dengan mendorong reproduksi gen yang paling baik yang memiliki kesamaan.
8.      Deprivasi relatif
Deprivasi relatif adalah keadaan psikologis dimana seseorang merasakan ketidakpuasan atas kesenjangan atau kekurangan subjektif yang dirasakannya pada saat keadaan diri dan kelompoknya dibandingkan dengan orang atau kelompok lain. Keadaan deprivasi bisa menimbulkan persepsi adanya suatu ketidakadilan.
2.6  Cara Mengurangi Prasangka Sosial
1.      Melakukan kontak langsung
2.      Mengajarkan pada anak untuk tidak membenci
3.      Mengoptimalkan peran orang tua, guru, individu dewasa yang dianggap penting oleh anak dan media massa untuk membentuk sikap menyukai atau tidak menyukai melalui contoh perilaku yang ditunjukkan (reinforcement positive)
4.      Menyadarkan individu untuk belajar membuat perbedaan tentang individu lain, yaitu belajar mengenal dan memahami individu lain berdasarkan karakteristiknya yang unik, tidak hanya berdasarkan keanggotaan individu tersebut dalam kelompok tertentu.
2.7  Dampak Prasangka Sosial
Prasangka sosial menurut Rose (dalam Gerungan,1981) dapat merugikan masyarakat secara dan umum dan organisasi khususnya. Hal ini terjadi karena prasangka sosial dapat menghambat perkembangan potensi individu secara maksimal. Selanjutnya, Steplan (1978) menguraikan bahwa prasangka sosial tidak saja mempengaruhi perilaku orang dewasa tetapi juga anak-anak sehingga dapat membatasi kesempatan mereka berkembang menjadi orang yang memiliki toleransi terhadap kelompok sasaran, misalnya kelompok minoritas.


BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Menurut Worchel dan kawan-kawan (2000), pengertian prasangka dibatasi sebagai sifat negatif yang tidak dapat dibenarkan terhadap suatu kelompok dan individu anggotanya. Prasangka (prejudice) merupakan perilaku negatif yang mengarahkan kelompok pada individualis berdasarkan pada keterbatasan atau kesalahan informasi terhadap kelompok. Prasangka juga dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang bersifat emosional, yang akan mudah sekali menjadi motivator munculnya ledakan sosial. Prasangka sosial memiliki beberapa ciri, yaitu: proses generalisasi terhadap perbuatan anggota kelompok lain, kompetisi sosial, penilaian ekstrem terhadap anggota kelompok lain, pengaruh persepsi selektif dan ingatan masa lalu, perasaan frustasi (scope goating), agresi antar kelompok, dan dogmatisme. Sumber-sumber penyebab prasangka ada 3, yaitu: prasangka sosial, prasangka kognitif, dan prasangka emosi dan perasaan.
2.      Saran
Kita telah mengetahui dampak dari prasangka, maka dari itu, kita sebaiknya berusaha agar tidak berprasangka negatif terhadap individu atau kelompok lain.




DAFTAR PUSTAKA
Sarwono, Sarlito Wirawan.2005.Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka
Klara Inata Arishanti.2006.Handout Psikologi Sosial. Depok: Universitas Gunadharma
Umi Kulsum, dkk.2014.Pengantar Psikologi Sosial. Jakarta: Prestasi Pusakaraya