BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Prasangka dibatasi
sebagai sifat negatif yang tidak dapat dibenarkan terhadap suatu kelompok dan
individu anggotanya. Maka dari itu, dalam makalah ini kami akan membahas lebih
lanjut tentang prasangka sosial, baik itu ciri-ciri, maupun dampak dari
prasangka sosial.
1.2
Tujuan
1. Mengetahui
pengertian dari prasangka sosial
2. Mengetahui
ciri-ciri prasangka sosial
3. Mengerahui
sumber-sumber sebab prasangka
4. Mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi prasangka sosial
1.3
Rumusan
Masalah
1.
Apakah pengertian dari prasangka sosial?
2.
Sebutkan cir-ciri prasangka sosial!
3.
Apa saja sumber-sumber sebab prasangka?
4.
Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi
prasangka sosial?
5.
BAB
II
ISI
2.1 Pengertian Prasangka Sosial
Menurut
Worchel dan kawan-kawan (2000), pengertian prasangka dibatasi sebagai sifat
negatif yang tidak dapat dibenarkan terhadap suatu kelompok dan individu
anggotanya. Prasangka (prejudice) merupakan
perilaku negatif yang mengarahkan kelompok pada individualis berdasarkan pada
keterbatasan atau kesalahan informasi terhadap kelompok. Prasangka juga dapat
didefinisikan sebagai sesuatu yang bersifat emosional, yang akan mudah sekali
menjadi motivator munculnya ledakan sosial.
Menurut
Mar’at (1981), prasangka sosial adalah dugaan-dugaan yang memiliki nilai
positif atau negatif, tetapi biasanya lebih bersifat negatif. Sedangkan menurut
Brehm dan Kassin (1993), prasangka sosial adalah perasaan negatif terhadap
seseorang semata-mata berdasarkan pada keanggotaan mereka dalam kelompok
tertentu. Menurut David O. Sears dan kawan-kawan (1991), prasangka sosial
adalah penilaian terhadap kelompok atau seorang individu yang didasarkan pada
keanggotaan kelompok tersebut, artinya prasangka sosial ditujukan pada orang
atau kelompok orang yang berbeda dengannya atau kelompoknya. Prasangka sosial
memiliki kualitas suka dan tidak suka pada objek yang diprasangkainya, dan
kondisi ini akan mempengaruhi tindakan atau perilaku seseorang yang
berprasangka tersebut.
2.2 Ciri-Ciri Prasangka Sosial
Ciri-ciri prasangka
sosial menurut Brigham (1991) dapat dilihat dari kecenderungan individu untuk
membuat kategori sosial (social
categorization). Kategori sosial adalah kecenderungan untuk membagi dunia
sosial menjadi dua kelompok, yaitu “kelompok kita” (in group) dan “kelompok mereka” (out group). Ciri-ciri dari prasangka sosial berdasarkan penguatan
perasaan in group dan out group adalah:
1. Proses
generalisasi terhadap perbuatan anggota kelompok lain
Menurut
Ancok dan Suroso (1995), jika ada salah seorang individu dari kelompok luar
berbuat negatif, maka akan digeneralisasikan pada semua anggota kelompok luar.
Namun hal tersebut tidak berlaku pada kelompok sendiri.
2. Kompetisi
sosial
Kompetisi
sosial adalah suatu cara yang digunakan oleh anggota kelompok untuk
meningkatkan harga dirinya dengan membandingkan kelompoknya dengan kelompok
lain dan menganggap kelompok sendiri lebih baik daripada kelompok lain.
3. Penilaian
ekstrem terhadap anggota kelompok lain
Individu
melakukan penilaian terhadap anggota kelompok lain baik penilaian positif
ataupun negatif secara berlebihan. Biasanya penilaian yang diberikan berupa
penilaian negatif.
4. Pengaruh
persepsi selektif dan ingatan masa lalu
Pengaruh
persepsi selektif dan ingatan masa lalu biasanya dikaitkan dengan stereotip.
Stereotip adalah keyakinan (belief)
yang menghubungkan sekelompok individu dengan ciri-ciri sifat tertentu ataupun
anggapan tentang ciri-ciri yang dimiliki oleh anggota kelompok luar. Jadi
stereotip adalah prakonsepsi ide mengenai kelompok, suatu imej yang pada
umumnya sangat sederhana, kaku, dan klise serta tidak akurat yang biasanya
timbul karena proses generalisasi. Sehingga apabila ada seorang individu
memiliki stereotip yang relevan dengan individu yang memersepsikannya, maka
akan langsung dipersepsikan secara negatif.
5. Perasaan
frustasi (scope goating)
Menurut
Brigham (1991), perasaan frustasi adalah rasa frustasi seseorang sehingga
membutuhkan pelampiasan sebagai objek atas ketidakmampuannya menghadapi
kegagalan. Kekecewaan akibat persaingan antar masing-masing individu dan
kelompok menjadikan seseorang mencari pengganti untuk mengekspresikan
frustasinya kepada objek lain.
6. Agresi
antar kelompok
Agresi
biasanya timbul akibat cara berpikir yang rasialis, sehingga menyebabkan
seseorang cenderung berperilaku agresif.
7. Dogmatisme
Dogmatisme
adalah sekumpulan kepercayaan yang dianut seseorang berkaitan dengan masalah
tertentu, salah satunya adalah mengenai kelompok lain. Bentuk dogmatisme dapat
berupa etnosentrisme dan favoritisme.
2.3 Sumber-Sumber Penyebab Prasangka
Sosial
Sumber penyebab
prasangka secara umum dapat dilihat berdasarkan tiga pandangan, yaitu:
1. Prasangka
sosial
Sumber
prasangka sosial, antara lain:
a. Ketidaksetaraan
sosial
Ketidaksetaraan sosial
ini dapat berasal dari ketidaksetaraan status dan prasangka serta agama dan
prasangka. Ketidaksetaraan status dan prasangka merupakan kesenjangan atau
perbedaan yang menggiring ke arah prasangka negatif. Agama juga menjadi salah
satu sumber prasangka.
b. Identitas
sosial
Identitas sosial
merupakan bagian untuk menjawab “siapa aku?” yang dapat dijawab bila kita
memiliki keanggotaan dalam sebuah kelompok. Kita mengidentifikasikan diri kita
dengan kelompok tertentu (in group),
sedangkan ketika kita dengan kelompok lain cenderung memuji kebaikan kelompok
kita sendiri.
c. Konformitas
Konformitas juga
merupakan salah satu sumber prasangka sosial. Menurut penelitian, orang yang
berkonformitas memiliki tingkat prasangka lebih tinggi dibandingkan dengan yang
tidak berkonformitas.
2. Prasangka
secara emosional
Prasangka
dapat dipicu oleh:
a. Frustasi
dan agresi rasa sakit yang sering membangkitkan pertikaian
Salah satu sumber
frustasi adalah adanya kompetisi. Ketika dua kelompok bersaing untuk
memperebutkan sesuatu, misalnya pekerjaan, rumah, dan lain-lain.
b. Kepribadian
yang dinamis (status)
Agar dapat merasakan
diri kita memiliki status, kita memerlukan adanya orang yang memiliki status
dibawah kita. Salah satu kelebihan psikologi tentang prasangka adalah dengan
adanya sistem status, yaitu perasaan superior
c. Kepribadian
otoriter
Emosi yang ikut
berkontribusi terhadap prasangka adalah kepribadian diri yang otoriter.
3. Prasangka
kognitif
Memahami
stereotip dan prasangka akan membantu memahami bagaimana otak bekerja. Selama
sepuluh tahun terakhir, pemikiran sosial mengenai prasangka adalah kepercayaan
yang telah distereotipkan dan sikap prasangka timbul tidak hanya karena
pengondisian sosial, sehingga mampu menimbulkan pertikaian akan tetapi juga
merupakan hasil dari proses pemikiran yang normal. Sumber prasangka kognitif
dapat dilihat dari kategorisasi dan simulasi distinktif.
Menurut Blumer (dalam Zanden, 1984)
salah satu penyebab terjadinya prasangka sosial adalah adanya perasaan berbeda
dengan kelompok lain atau orang lain misalnya antara kelompok mayoritas dan
kelompok minoritas. Berkaitan dengan hal di atas, Mar’at (1988) menguraikan
bahwa prasangka sosial banyak ditimbulkan oleh beberapa hal sebagai berikut:
a. Kekuasaan
faktual yang terlihat dalam hubungan kelompok mayoritas dan kelompok minoritas
b. Fakta
akan perlakuan terhadap kelompok mayoritas dan minoritas.
c. Fakta
mengenai kesempatan usaha antara kelompok mayoritas dan minoritas. Fakta
mengenai unsur geografis, dimana keluarga kelompok mayoritas dan minoritas
menduduki daerah-daerah tertentu.
d. Posisi
dan peranan sosial ekonomi pada umumnya dikuasai kelompok mayoritas.
e. Potensi
energi eksistensi dari kelompok minoritas dalam mempertahankan hidupnya
2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Prasangka Sosial
Proses pembentukan prasangka sosial
menurut Mar’at (1981) dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1.
Pengaruh kepribadian
Dalam
perkembangan kepribadian seseorang, pembentukan prasangka sosial juga akan
terlihat. Kepribadian otoriter mengarahkan seseorang membentuk suatu konsep
prasangka sosial karena ada kecenderungan orang tersebut selalu merasa curiga,
berpikir dogmatis, dan berpola pada diri sendiri.
2.
Pendidikan dan status
Semakin
tinggi pendidikan seseorang dan semakin tinggi status yang dimilikinya, itu
akan mempengaruhi cara berpikirnya dan akan mereduksi prasangka sosial.
3.
Pengaruh pendidikan anak oleh orang tua
Orang
tua memiliki nilai-nilai tradisional yang dapat dikatakan berperan sebagai
family ideology yang akan mempengaruhi prasangka sosial.
4.
Pengaruh kelompok
Kelompok
memiliki norma dan nilai tersendiri dan akan mempengaruhi pembentukan prasangka
sosial pada kelompok tersebut. Oleh karenanya, norma kelompok fungsi otonom dan
akan banyak memberikan informasi secara realistis atau secara emosional yang
mempengaruhi sistem sikap individu.
5.
Pengaruh politik dan ekonomi
Politik
dan ekonomi sering mendominasi pembentukan prasangka sosial. Pengaruh politik
dan ekonomi telah banyak memicu terjadinya prasangka sosial terhadap kelompok
lain misalnya kelompok minoritas.
6.
Pengaruh komunikasi
Komunikasi
memiliki peran penting dalam memberikan informasi yang baik dan komponen sikap
akan banyak dipengaruhi oleh media massa seperti radio, televisi, yang
kesemuanya akan mempengaruhi pembentukan prasangka sosial dalam diri seseorang.
7.
Pengaruh hubungan sosial
Hubungan
sosial merupakan suatu media dalam mengurangi atau mempertinggi pembentukan
prasangka sosial. Sehubungan dengan proses belajar sebagai sebab yang
menimbulkan terjadinya prasangka sosial pada orang lain, maka dalam hal ini,
orang tua dianggap sebagai guru utama karena pengaruh mereka paling besar pada
tahap modelling pada usia anak-anak
sekaligus menanamkan perilaku prasangka sosial kepada kelompok lain.
2.5 Teori-Teori Prasangka Sosial
1.
Teori konflik realistik
Teori
ini memandang bahwa terjadinya kompetisi (biasanya persaingan memperoleh
sumber-sumber langka, seperti ekonomi dan kekuasaan) dan konflik antar kelompok
dapat meningkatkan kecenderungan untuk berprasangka dan mendiskriminasikan
anggota out group.
2.
Teori belajar sosial
Menurut
teori belajar sosial, prasangka adalah sesuatu yang dipelajari seperti halnya
individu belajar nilai-nilai sosial yang lain. Prasangka biasanya diperoleh
anak-anak melalui proses sosialisasi. Anak-anak banyak yang menginternalisasikan
norma-norma mengenai stereotip dan perilaku antar kelompok yang ditetapkan oleh
orang tua dan teman sebaya.
3.
Teori kognitif
Ini
menjelaskan bagaimana cara individu berpikir mengenai prasangka (objek yang
dijadikan sasaran untuk diprasangkai) dan bagaimana individu memproses
informasi dan memahami secara subjektif mengenai dunia dan individu lain.
4.
Teori psikodinamika
Menurut
teori psikodinamika, prasangka adalah agresi yang dialihkan. Pengalihan agresi
terjadi apabila sumber frustasi tidak dapat diserang karena rasa takut dan
sumber frustasi itu benar-benar tidak ada. Prasangka juga dapat timbul akibat
terganggunya fungsi psikologis dalam diri individu tersebut. Berdasarkan teori
psikodinamika, prasangka timbul karena adanya rasa frustasi dan kepribadian yang
otoriter:
A. Teori
frustasi
B. Kepribadian
otoriter
5.
Teori kategorisasi sosial
Melalui
kategorisasi sosial, kita membedakan diri kita dengan orang lain, keluarga kita
dengan keluarga orang lain, kelompok kita dengan kelompok orang lain, etnik
kita dengan etnik lain. Pembedaan kategori ini bisa berdasarkan persamaan atau
perbedaan, misalnya persamaan tempat tinggal, garis keturunan, warna kulit,
pekerjaan, kekayaan yang relatif sama dan sebagai akan dikategorikan dalam
kelompok yang sama. Sedangkan perbedaan dalam warna kulit, usia, jenis kelamin,
tempat tinggal, pekerjaan, tingkat pendidikan,
dan lainnya maka akan dikategorikan dalam kelompok yang berbeda.
6.
Teori perbandingan sosial
Konsekuensi
dari pembandingan adalah adanya penilaian sesuatu lebih baik atau lebih buruk
dari yang lain. Melalui perbandingan sosial, kita juga menyadari posisi kita di
mata orang lain dan masyarakat.
7.
Teori biologi
Menurut
pendekatan ini, prasangka memiliki dasar biologis. Hipotesisnya, yakni
kecenderungan untuk tidak menyukai kelompok lain dan hal-hal lain yang bukan
milik kita merupakan warisan yang telah terpetakan dalam gen kita. Asumsi dari
teori ini yakni, gen akan memastikan kelestariannya dengan mendorong reproduksi
gen yang paling baik yang memiliki kesamaan.
8.
Deprivasi relatif
Deprivasi
relatif adalah keadaan psikologis dimana seseorang merasakan ketidakpuasan atas
kesenjangan atau kekurangan subjektif yang dirasakannya pada saat keadaan diri
dan kelompoknya dibandingkan dengan orang atau kelompok lain. Keadaan deprivasi
bisa menimbulkan persepsi adanya suatu ketidakadilan.
2.6 Cara Mengurangi Prasangka Sosial
1.
Melakukan kontak langsung
2.
Mengajarkan pada anak untuk tidak
membenci
3. Mengoptimalkan
peran orang tua, guru, individu dewasa yang dianggap penting oleh anak dan
media massa untuk membentuk sikap menyukai atau tidak menyukai melalui contoh
perilaku yang ditunjukkan (reinforcement
positive)
4. Menyadarkan
individu untuk belajar membuat perbedaan tentang individu lain, yaitu belajar
mengenal dan memahami individu lain berdasarkan karakteristiknya yang unik,
tidak hanya berdasarkan keanggotaan individu tersebut dalam kelompok tertentu.
2.7 Dampak Prasangka Sosial
Prasangka sosial menurut Rose
(dalam Gerungan,1981) dapat merugikan masyarakat secara dan umum dan organisasi
khususnya. Hal ini terjadi karena prasangka sosial dapat menghambat
perkembangan potensi individu secara maksimal. Selanjutnya, Steplan (1978)
menguraikan bahwa prasangka sosial tidak saja mempengaruhi perilaku orang
dewasa tetapi juga anak-anak sehingga dapat membatasi kesempatan mereka
berkembang menjadi orang yang memiliki toleransi terhadap kelompok sasaran,
misalnya kelompok minoritas.
BAB
III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Menurut
Worchel dan kawan-kawan (2000), pengertian prasangka dibatasi sebagai sifat
negatif yang tidak dapat dibenarkan terhadap suatu kelompok dan individu
anggotanya. Prasangka (prejudice)
merupakan perilaku negatif yang mengarahkan kelompok pada individualis
berdasarkan pada keterbatasan atau kesalahan informasi terhadap kelompok.
Prasangka juga dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang bersifat emosional,
yang akan mudah sekali menjadi motivator munculnya ledakan sosial. Prasangka
sosial memiliki beberapa ciri, yaitu: proses generalisasi terhadap perbuatan
anggota kelompok lain, kompetisi sosial, penilaian ekstrem terhadap anggota
kelompok lain, pengaruh persepsi selektif dan ingatan masa lalu, perasaan
frustasi (scope goating), agresi
antar kelompok, dan dogmatisme. Sumber-sumber penyebab prasangka ada 3, yaitu:
prasangka sosial, prasangka kognitif, dan prasangka emosi dan perasaan.
2.
Saran
Kita telah mengetahui dampak dari
prasangka, maka dari itu, kita sebaiknya berusaha agar tidak berprasangka
negatif terhadap individu atau kelompok lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Sarwono,
Sarlito Wirawan.2005.Psikologi Sosial.
Jakarta: Balai Pustaka
Klara
Inata Arishanti.2006.Handout Psikologi
Sosial. Depok: Universitas Gunadharma
Umi
Kulsum, dkk.2014.Pengantar Psikologi
Sosial. Jakarta: Prestasi Pusakaraya
No comments:
Post a Comment