BAB
I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Seiring
dengan kemajuan teknologi dan komunikasi pada saat ini semakin banyak individu
yang mementingkan dirinya sendiri atau berkurangnya rasa tolong menolong antara
sesama. Individualisme merupakan ciri manusia modern. Individualisme ini
merupakan faham yang bertitik tolak pada sikap egoisme, mementingkan dirinya
sendiri, sehingga mengorbankan orang lain demi kepentingan dirinya sendiri.
Mengingat masih banyak orang-orang yang hidup didalam kesusahan dan membutuhkan
pertolongan, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menolong.
2. Tujuan
1. Mengetahui
pengertian dari altruisme dan prososial.
2. Mengetahui
teori-teori dari altruisme.
3. Mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi altruisme.
4. Mengetahui
situasi-situasi yang mempengaruhi perilaku prososial.
5. Mengetahui
pengaruh-pengaruh pribadi terhadap perilaku prososial.
3. Rumusan Masalah
1. Apa
pengertian dari altruisme dan prososial?
2. Apa
saja teori-teori dari altruisme?
3. Jelaskan
faktor-faktor yang mempengaruhi altruisme!
4. Apa
saja situasi-situasi yang mempengaruhi perilaku prososial?
5. Bagaimana
pengaruh-pengaruh pribadi terhadap perilaku prososial?
BAB
II
ISI
1.
Altruisme
1.1 Pengertian Altruisme
Altruisme adalah bentuk
khusus perilaku menolong yang dilakukan dengan suka rela, merugikan bagi
pelakunya, dan terutama dimotivasi oleh kebutuhan untuk meningkatkan
kesejahteraan orang lain, bukan untuk mengharapkan imbalan (Batson 1987;
Walster & Piliavin, 1972). Altruisme dapat juga didefinisikan tindakan
memberi bantuan kepada orang lain tanpa adanya antisipasi akan reward atau
hadiah dari orang yang ditolong (Macaulay dan Berkowitz, 1970). Definisi lain
dari altruisme yaitu peduli dan membantu orang lain tanpa mengharap imbalan
(Myers, 1993). Menurut Batson (1991), altruisme adalah keadaan motivasional
seseorang yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan orang lain. Menurut
Walstern, dan Piliavin (Deaux, 1976), perilaku altruistik adalah perilaku
menolong yang timbul bukan karena adanya tekanan atau kewajiban, melainkan
tindakan tersebut bersifat suka rela dan tidak berdasarkan norma–norma
tertentu, tindakan tersebut juga merugikan penolong, karena meminta pengorbanan
waktu, usaha,uang dan tidak ada imbalan atau pun reward dari semua pengorbanan.
Altruisme adalah tindakan suka rela yang dilakukan oleh seseorang atau pun
kelompok orang untuk menolong orang lain tampa mengharapkan imbalan apa pun,
kecuali mungkin perasaan telah melakukan perbuatan baik. Sears dkk (1994)
Altruisme adalah tindakan sukarela untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan
imbalan dalam bentuk apapun atau disebut juga sebagai tindakan tanpa pamrih.
1.2 Teori Altruisme
Altruisme menurut
teori-teori psikologi tradisional
a.
Teori Psikoanalisa
Teori ini bersandar
pada asumsi bahwa manusia pada dasarnya agresif dan selfish (egois) secara
instinktif. Dengan demikian beberapa teoris psikoanalisa memandang altruisme
dalam arti sebagai pertahanan diri terhadap kecemasan dan konflik internal diri
kita sendiri, dan hal ini menunjukkan bahwa altruisme lebih bersifat
self-serving (melayani diri sendiri), bukan dimotivasi oleh kepedulian yang
murni terhadap orang lain. Meskipun diakui bahwa pengalaman sosialisasi yang
positif dapat membuat kita tidak terlalu selfish (lebih selfless), namun para
teoris psikoanalisa tetap memandang bahwa pada dasarnya manusia bersifat
selfish.
b.
Teori-teori Belajar
Khususnya para teoris
psikologi belajar yang menekankan reinforcement seperti B.F. Skinner dll,
beranggapan bahwa kita cenderung mengulangi atau memperkuat perilaku kita yang
memiliki konsekuensi positif bagi diri kita. Mengenai altruisme mereka
berpendapat bahwa dibalik perilaku yang nampaknya altruisme sesungguhnya adalah
egoisme atau kepentingan diri sendiri. Orang dapat merasa lebih baik setelah
mereka memberikan pertolongan, dapat mengharapkan imbalan di akherat, atau
dapat menghindari perasaan bersalah atau malu yang dapat muncul bila mereka tidak
menolong. Pun bila seseorang tidak dapat mengharapkan hadiah, penghargaan,
imbalan uang, dia mungkin dimotivasi oleh penghargaan-penghargaan yang lebih
lunak (Gelfand & Hartmann 1982).
c.
Hipotesis Empati-Altruisme
Batson dkk (Batson
1987, 1990; Batson & Olson 1991;Coke, Batson, &
McDavis 1978)
berdasarkan penelitian-penelitian yang mereka lakukan
menemukan bahwa
terdapat hubungan antara perilaku menolong dan empati (seolah-olah mengalami emosi
orang lain). Berdasarkan hal tersebut, muncul pertanyaan, mengapa perasaan
empati terhadap orang lain lebih memungkinkan kita untuk menolongnya? Batson dengan
hipotesis empatialtruisme menyatakan bahwa emosi empatik dapat menghasilkan
motivasi altruistik yang murni, yaitu menolong dengan tujuan terutama untuk mengurangi
penderitaan si korban, bukan untuk memuaskan kebutuhan diri sendiri. Untuk
membedakan antara menolong yang dimotivasi secara egoistik dengan yang
dimotivasi secara altruistik atas dasar empati, Batson dkk telah berusaha
mengukur dua reaksi emosi yang berbeda terhadap seseorang yang mengalami
kesulitan (distress):
-
Empathic concern: fokusnya, simpati terhadap
kesulitan orang lain dan motivasi untuk mengurangi kesulitan tersebut. Dalam
skala pengukur empathic concern, yang dimasukkan sebagai sifat-sifat yang merefleksikan
hal ini adalah: simpati (sympathetic), belas kasihan (compassionate), gerakan
hati (moved), tidak sampai hati (softhearted), dan sabar (tender).
-
Personal distress: kepedulian terhadap
rasa ketidaknyamanan diri sendiri dan motivasi untuk mengurangi ketidaknyamanan
tersebut. Dalam skala pengukur personal distress, reaksi-reaksi yang dianggap
mencerminkan hal ini adalah: ketakutan/kegelisahan (alarmed), cemas/khawatir
(worried), terganggu (disturbed), dan terkejut/bingung (upset).
1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Altruisme
Menurut Wortman dkk.
ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang dalam memberikan pertolongan
kepada orang lain.
1. Suasana
hati.
Jika suasana hati
sedang enak, orang juga akan terdorong untuk memberikan pertolongan lebih
banyak. Itu mengapa pada masa puasa, Idul Fitri atau menjelang Natal orang
cenderung memberikan derma lebih banyak. Merasakan suasana yang enak itu orang
cenderung ingin memperpanjangnya dengan perilaku yang positif. Riset
menunjukkan bahwa menolong orang lain akan lebih disukai jika ganjarannya
jelas. Semakin nyata ganjarannya, semakin mau orang menolong (Forgas &
Bower). Bagaimana dengan suasana hati yang buruk? Menurut penelitian Carlson
& Miller, asalkan lingkungannya baik, keinginan untuk menolong meningkat
pada orang yang tidak bahagia. Pada dasarnya orang yang tidak bahagia mencari
cara untuk keluar dari keadaan itu, dan menolong orang lain merupakan
pilihannya. Tapi pakar psikologi lain tidak meyakini peran suasana hati yang
negatif itu dalam altruisme.
2. Empati.
Menolong orang lain
membuat kita merasa enak. Tapi bisakah kita menolong orang lain tanpa
dilatarbelakangi motivasi yang mementingkan diri sendiri (selfish)? Menurut
Daniel Batson bisa, yaitu dengan empati (pengalaman menempatkan diri pada
keadaan emosi orang lain seolah-olah mengalaminya sendiri). Empati inilah yang
menurut Batson akan mendorong orang untuk melakukan pertolongan altruistis.
3. Meyakini
Keadilan Dunia.
Faktor lain yang
mendorong terjadinya altruisme adalah keyakinan akan adanya keadilan di dunia
(just world), yaitu keyakinan bahwa dalam jangka panjang yang salah akan
dihukum dan yang baik akan dapat ganjaran. Menurut teori Melvin Lerner, orang
yang keyakinannya kuat terhadap keadilan dunia akan termotivasi untuk mencoba
memperbaiki keadaan ketika mereka melihat orang yang tidak bersalah menderita.
Maka tanpa pikir panjang mereka segera bertindak memberi pertolongan jika ada
orang yang kemalangan.
4. Faktor
Sosiobiologis.
Secara sepintas
perilaku altruistis memberi kesan kontraproduktif, mengandung risiko tinggi
termasuk terluka dan bahkan mati. Ketika orang yang ditolong bisa selamat, yang
menolong mungkin malah tidak selamat. Perilaku seperti itu antara lain muncul
karena ada proses adaptasi dengan lingkungan terdekat, dalam hal ini orangtua.
Selain itu, meskipun minimal, ada pula peran kontribusi unsur genetik.
5. Faktor
Situasional.
Apakah ada karakter
tertentu yang membuat seseorang menjadi altruistis? Belum ada penelitian yang
membuktikannya. Yang lebih diyakini adalah bahwa seseorang menjadi penolong
lebih sebagai produk lingkungan daripada faktor yang ada pada dirinya.
6. Faktor
Penghayatan Terhadap Agama
Agama manapun di dunia
ini semuanya menganjurkan perilaku menolong. Sehingga semakin tinggi tingkat
penghayatan keagamaan seseorang, maka semakin tinggi pula perilaku menolongnya.
Perilaku menolong didasari karena sikap berbakti kepada manusia sebagai wujud
ketaatannya kepada Tuhan. Sebagai orang yang beriman pada Tuhan, tentu saja
spiritualitas ini dikembangkan melalui persatuan dengan Tuhan, juga dengan
sesama umat manusia dan alam semesta ciptaan-Nya. Dengan itu, prososial akan
menjadi ciri khas yang melekat dalam diri seseorang karena orang lain disadari
sebagai bagian dari hidupnya. Prososial bukan lagi berupa tindakan temporer
yang disertai pamrih pribadi.
2.
Prososial
2.1 Pengertian Prososial
Perilaku prososial
adalah perilaku yang bermanfaat atau memiliki efek positif bagi orang lain
(Staub 1978; Wispe 1972). Istilah prososial berlawanan dengan istilah anti
sosial yang diterapkan untuk perilaku agresif atau kekerasan. Perilaku-perilaku
yang dapat dipandang sebagai prososial adalah memberikan pertolongan dalam
situasi darurat, beramal (charity), kerja sama, donasi, membantu, berkorban,
dan berbagi. Dalam tulisan ini yang menjadi fokus adalah perilaku menolong
dalam kondisi darurat, yang lebih memberikan manfaat bagi orang lain, bukan
bagi diri sendiri.
2.2 Pengambilan Keputusan dalam
Menolong
Dalam situasi-situasi
khusus, kita harus memutuskan untuk menolong atau tidak. Terdapat beberapa
model yang menggambarkan bahwa keputusan tersebut melalui tahapan-tahapan.
Model-model tersebut menekankan proses kognitif dan juga emosi-emosi sebagai
motivator perilaku menolong. Berikut adalah model arousal / cost-reward dari
Jane Piliavin dkk (1981), yang diterapkan dalam kondisi darurat, dan dapat
diperluas untuk kondisi-kondisi yang bukan darurat. Terdiri dari lima langkah:
a. Menyadari
adanya kebutuhan seseorang untuk ditolong.
b. Mengalami
arousal
c. Menginterpretasikan
pemicu arousal yang dialaminya dan memberinya nama
d. Memperhitungkan
untung/rugi dari beberapa alternatif tindakan
e. Membuat
keputusan dan mengambil tindakan tertentu.
2.3 Situasi-Situasi yang Mempengaruhi
Perilaku Prososial
Situasi-situasi yang
mempengaruhi perilaku prososial sangat bervariasi, dari situasi yang darurat
(emergencies) hingga yang bukan darurat (nonemergencies), dari situasi yang
kabur (ambiguous) hingga yang jelas (clearcut). Dengan demikian tingkat gejolak
emosi dan faktor-faktor cost-reward yang dipertimbangkan juga sangat bervariasi
antara situasi yang satu dengan situasi yang lainnya.
1. Orang
Yang Berada Dalam Situasi Membutuhkan Bantuan
Untuk memutuskan apakah
seseorang memerlukan bantuan, hal yang dipertimbangkan adalah :
a. Ciri-ciri
Kebutuhan :
(1)
Kejelasan kebutuhan. Calon penolong
lebih mungkin memberikan pertolongan jika kebutuhan korban cukup jelas, tidak
samar-samar. Contoh : Korban kecelakaan atau bencana alam lebih jelas
membutuhkan bantuan dari pada orang miskin di kota.
(2)
Legitimasi (keabsahan) kebutuhan
seseorang. Kebutuhan yang dianggap lebih sah, lebih mungkin untuk diberikan
bantuan. Contoh : pengemis yang meminta uang untuk membelikan susu anaknya
lebih mungkin dibantu dari pada pengemis yang meminta uang untuk membeli kue
donat.
(3)
Penerimaan atas sebab-sebab kebutuhan
seseorang. Calon penolong lebih mungkin memberikan pertolongan jika penyebab
kebutuhan yang diajukan dapat diterima. Contoh : mahasiswa yang meminjam
catatan kuliah karena tidak dapat mencatat dengan baik lebih mungkin ditolong daripada
mahasiswa yang malas dan cenderung bersantai-santai di kelas.
b. Relasi/
hubungannya dengan calon penolong.
-
Dalam hubungan antar anggota keluarga
dan sahabat terdapat saling ketergantungan dan kewajiban untuk saling membantu.
Dalam kehidupan sehari-hari kita lebih banyak menolong keluarga dan sahabat
dari pada menolong orang lain.
-
Emosi kita lebih
terbangkitkan/bergejolak dan lebih termotivasi untuk menolong jika keluarga
atau sahabat kita mengalami kesulitan dari pada jika orang lain yang mengalami
kesulitan.
-
Pada umumnya kita juga cenderung
memberikan bantuan untuk orang yang memiliki kesamaan dengan diri kita atau
yang memiliki daya tarik.
2. Pengaruh
Keberadaan Orang-orang Lain
Berdasarkan eksperimen
yang dilakukan oleh Darley & Latane (1968), serta studi yang dilakukan oleh
Latane & Nida (1981) terhadap 40 penelitian, disimpulkan bahwa keberadaan
orang-orang lain akan menurunkan kemungkinan seseorang menolong korban situasi
darurat (misal, korban kecelakaan lalu lintas atau perampokan), dan juga
menurunkan kemungkinan korban menerima bantuan.
o
Latane & Nida (1981) menyimpulkan
bahwa efek keberadaan orang-orang lain tersebut sangat konsisten/ajeg, dan
bahwa perbedaan keinginan menolong terbesar ditemukan antara saksi tunggal
dengan saksi yang lebih dari satu orang.
o
Hasil eksperimen Darley & Latane
(1968) :
Latane dkk berpendapat
bahwa terdapat tiga proses sosial yang menjadi penyebab dari pengaruh
keberadaan orang-orang lain tersebut, yaitu :
a. Proses
Pengaruh Sosial (social influence process) : Saksi mengamati orang lain untuk
membantu menginterpretasikan dana memutuskan apa yang akan dilakukan, dan
mereka dapat menyimpulkan bahwa korban tidak terlalu memerlukan bantuan jika
orang-orang lain tidak menunjukkan tanda-tanda untuk bertindak.
b. Hambatan
dari saksi-saksi lain (audience inhibition) atau ketakutan akan penilaian orang
lain (evaluation apprehension) : Para saksi mengkhawatirkan bagaimana
orang-orang lain akan menilai perilakunya. Pikiran bahwa dirinya menghadapi
resiko akan menghambat pertolongan.
c. Kekaburan
tanggung jawab (diffusion of responsibility) : Bila terdapat beberapa orang
yang berpotensi menolong maka tanggung jawab untuk bertindak
terbagi, sehingga tiap-tiap individu mungkin menjadi kurang tanggung jawabnya
untuk bertindak.
Catatan
: Namun demikian, pengaruh keberadaan orang-orang lain seperti dijelaskan di atas
dapat dihindari. Sebagai contoh, bila peristiwanya jelas-jelas merupakan situasi
darurat dan para saksi memberikan reaksi, dan bila para saksi bagaimanapun juga
merasakan adanya tanggungjawab pribadi untuk bertindak (karena rasa tanggung
jawab itu sendiri ataupun karena keahliannya).
2.4 Pengaruh-Pengaruh Pribadi Terhadap
Perilaku Prososial
Pada bagian ini
dijelaskan bagaimana karakteristik individu ikut mempengaruhi perilaku
prososialnya.
a. Menurut
jenis kelamin : Jenis kelamin tertentu lebih memungkinkan untuk menolong,
tergantung bagaimana situasinya (Eagly & Crowley, 1986). Contoh :
-
Laki-laki lebih mungkin menolong dalam
situasi darurat yang membahayakan.
-
Perempuan lebih mungkin untuk memberikan
bantuan dan dukungan emosional dalam situasi sehari-hari karena peran gender
tradisionalnya sebagai perawat/pengasuh.
b. Tempat
tinggal di kota besar atau di kota kecil /daerah pinggiran : Orang yang tinggal
di daerah pinggiran dan kota kecil lebih suka menolong dalam berbagai situasi
daripada orang-orang yang tinggal di kota besar (House & Wolf, 1978;
Steblay,1987).
Hipotesis
urban-overload, diusulkan oleh Milgram (1970) : Orang yang tinggal di kota
besar harus selektif dalam menghadapi stimulasi lingkungan yang lebih
tinggi/kompleks atau mereka tidak dapat berfungsi. Dengan demikian mereka
mengabaikan kebutuhan orang lain, mengancam orang lain secara kasar, dan
memilih-milih untuk menolong orang lain.
c. Contoh
dari orang tua : Dari penelitian ditemukan bahwa para altruis (orang yang
menolong demi mengurangi penderitaan korban, bukan demi dirinya sendiri),
misalnya para penolong orang Yahudi yang terancam Nazi yang penuh resiko selama
Perang Dunia II, telah diasuh secara kuat oleh orang tua yang memiliki standard
moral yang tinggi, sungguh-sungguh merawat, dan mendidik anaknya untuk peduli
terhadap kemanusiaan, tidak hanya untuk kelompoknya sendiri (Fogelman &
Wiener, 1985; London, 1970; Oliner & Oliner, 1988).
BAB
III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Altruisme
adalah bentuk khusus perilaku menolong yang dilakukan dengan suka rela, merugikan
bagi pelakunya, dan terutama dimotivasi oleh kebutuhan untuk meningkatkan
kesejahteraan orang lain, bukan untuk mengharapkan imbalan. Perilaku prososial
adalah perilaku yang bermanfaat atau memiliki efek positif bagi orang lain
(Staub 1978; Wispe 1972). Istilah prososial berlawanan dengan istilah anti
sosial yang diterapkan untuk perilaku agresif atau kekerasan. Perilaku-perilaku
yang dapat dipandang sebagai prososial adalah memberikan pertolongan dalam
situasi darurat, beramal (charity), kerja sama, donasi, membantu, berkorban,
dan berbagi. Dalam tulisan ini yang menjadi fokus adalah perilaku menolong
dalam kondisi darurat, yang lebih memberikan manfaat bagi orang lain, bukan
bagi diri sendiri.
2.
Saran
Seperti yang kita ketahui dari
penjelasan altruisme dan prososial di atas, kami berharap bahwa masyarakat atau
pembaca dapat bersikap mau menolong sesama sesuai dengan kondisi-kondisi
tertentu. Kita tidak harus selalu menolong orang lain melainkan pada
kondisi-kondisi yang dituliskan di atas.
DAFTAR
PUSTAKA
Sarwono,
Sarlito Wirawan.2005.Psikologi Sosial.
Jakarta: Balai Pustaka
Klara
Inata Arishanti.2006.Handout Psikologi
Sosial. Depok: Universitas Gunadharma
No comments:
Post a Comment