Monday, November 6, 2017

MAKALAH ALTRUISME DAN PROSOSIAL



BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Seiring dengan kemajuan teknologi dan komunikasi pada saat ini semakin banyak individu yang mementingkan dirinya sendiri atau berkurangnya rasa tolong menolong antara sesama. Individualisme merupakan ciri manusia modern. Individualisme ini merupakan faham yang bertitik tolak pada sikap egoisme, mementingkan dirinya sendiri, sehingga mengorbankan orang lain demi kepentingan dirinya sendiri. Mengingat masih banyak orang-orang yang hidup didalam kesusahan dan membutuhkan pertolongan, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menolong.
2.      Tujuan
1.      Mengetahui pengertian dari altruisme dan prososial.
2.      Mengetahui teori-teori dari altruisme.
3.      Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi altruisme.
4.      Mengetahui situasi-situasi yang mempengaruhi perilaku prososial.
5.      Mengetahui pengaruh-pengaruh pribadi terhadap perilaku prososial.
3.      Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari altruisme dan prososial?
2.      Apa saja teori-teori dari altruisme?
3.      Jelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi altruisme!
4.      Apa saja situasi-situasi yang mempengaruhi perilaku prososial?
5.      Bagaimana pengaruh-pengaruh pribadi terhadap perilaku prososial?
BAB II
ISI
1.        Altruisme
1.1  Pengertian Altruisme
Altruisme adalah bentuk khusus perilaku menolong yang dilakukan dengan suka rela, merugikan bagi pelakunya, dan terutama dimotivasi oleh kebutuhan untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain, bukan untuk mengharapkan imbalan (Batson 1987; Walster & Piliavin, 1972). Altruisme dapat juga didefinisikan tindakan memberi bantuan kepada orang lain tanpa adanya antisipasi akan reward atau hadiah dari orang yang ditolong (Macaulay dan Berkowitz, 1970). Definisi lain dari altruisme yaitu peduli dan membantu orang lain tanpa mengharap imbalan (Myers, 1993). Menurut Batson (1991), altruisme adalah keadaan motivasional seseorang yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan orang lain. Menurut Walstern, dan Piliavin (Deaux, 1976), perilaku altruistik adalah perilaku menolong yang timbul bukan karena adanya tekanan atau kewajiban, melainkan tindakan tersebut bersifat suka rela dan tidak berdasarkan norma–norma tertentu, tindakan tersebut juga merugikan penolong, karena meminta pengorbanan waktu, usaha,uang dan tidak ada imbalan atau pun reward dari semua pengorbanan. Altruisme adalah tindakan suka rela yang dilakukan oleh seseorang atau pun kelompok orang untuk menolong orang lain tampa mengharapkan imbalan apa pun, kecuali mungkin perasaan telah melakukan perbuatan baik. Sears dkk (1994) Altruisme adalah tindakan sukarela untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan dalam bentuk apapun atau disebut juga sebagai tindakan tanpa pamrih.
1.2  Teori Altruisme
Altruisme menurut teori-teori psikologi tradisional
a.         Teori Psikoanalisa
Teori ini bersandar pada asumsi bahwa manusia pada dasarnya agresif dan selfish (egois) secara instinktif. Dengan demikian beberapa teoris psikoanalisa memandang altruisme dalam arti sebagai pertahanan diri terhadap kecemasan dan konflik internal diri kita sendiri, dan hal ini menunjukkan bahwa altruisme lebih bersifat self-serving (melayani diri sendiri), bukan dimotivasi oleh kepedulian yang murni terhadap orang lain. Meskipun diakui bahwa pengalaman sosialisasi yang positif dapat membuat kita tidak terlalu selfish (lebih selfless), namun para teoris psikoanalisa tetap memandang bahwa pada dasarnya manusia bersifat selfish.
b.        Teori-teori Belajar
Khususnya para teoris psikologi belajar yang menekankan reinforcement seperti B.F. Skinner dll, beranggapan bahwa kita cenderung mengulangi atau memperkuat perilaku kita yang memiliki konsekuensi positif bagi diri kita. Mengenai altruisme mereka berpendapat bahwa dibalik perilaku yang nampaknya altruisme sesungguhnya adalah egoisme atau kepentingan diri sendiri. Orang dapat merasa lebih baik setelah mereka memberikan pertolongan, dapat mengharapkan imbalan di akherat, atau dapat menghindari perasaan bersalah atau malu yang dapat muncul bila mereka tidak menolong. Pun bila seseorang tidak dapat mengharapkan hadiah, penghargaan, imbalan uang, dia mungkin dimotivasi oleh penghargaan-penghargaan yang lebih lunak (Gelfand & Hartmann 1982).
c.         Hipotesis Empati-Altruisme
Batson dkk (Batson 1987, 1990; Batson & Olson 1991;Coke, Batson, &
McDavis 1978) berdasarkan penelitian-penelitian yang mereka lakukan
menemukan bahwa terdapat hubungan antara perilaku menolong dan empati (seolah-olah mengalami emosi orang lain). Berdasarkan hal tersebut, muncul pertanyaan, mengapa perasaan empati terhadap orang lain lebih memungkinkan kita untuk menolongnya? Batson dengan hipotesis empatialtruisme menyatakan bahwa emosi empatik dapat menghasilkan motivasi altruistik yang murni, yaitu menolong dengan tujuan terutama untuk mengurangi penderitaan si korban, bukan untuk memuaskan kebutuhan diri sendiri. Untuk membedakan antara menolong yang dimotivasi secara egoistik dengan yang dimotivasi secara altruistik atas dasar empati, Batson dkk telah berusaha mengukur dua reaksi emosi yang berbeda terhadap seseorang yang mengalami kesulitan (distress):
-          Empathic concern: fokusnya, simpati terhadap kesulitan orang lain dan motivasi untuk mengurangi kesulitan tersebut. Dalam skala pengukur empathic concern, yang dimasukkan sebagai sifat-sifat yang merefleksikan hal ini adalah: simpati (sympathetic), belas kasihan (compassionate), gerakan hati (moved), tidak sampai hati (softhearted), dan sabar (tender).
-          Personal distress: kepedulian terhadap rasa ketidaknyamanan diri sendiri dan motivasi untuk mengurangi ketidaknyamanan tersebut. Dalam skala pengukur personal distress, reaksi-reaksi yang dianggap mencerminkan hal ini adalah: ketakutan/kegelisahan (alarmed), cemas/khawatir (worried), terganggu (disturbed), dan terkejut/bingung (upset).
1.3  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Altruisme
Menurut Wortman dkk. ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang dalam memberikan pertolongan kepada orang lain.
1.      Suasana hati.
Jika suasana hati sedang enak, orang juga akan terdorong untuk memberikan pertolongan lebih banyak. Itu mengapa pada masa puasa, Idul Fitri atau menjelang Natal orang cenderung memberikan derma lebih banyak. Merasakan suasana yang enak itu orang cenderung ingin memperpanjangnya dengan perilaku yang positif. Riset menunjukkan bahwa menolong orang lain akan lebih disukai jika ganjarannya jelas. Semakin nyata ganjarannya, semakin mau orang menolong (Forgas & Bower). Bagaimana dengan suasana hati yang buruk? Menurut penelitian Carlson & Miller, asalkan lingkungannya baik, keinginan untuk menolong meningkat pada orang yang tidak bahagia. Pada dasarnya orang yang tidak bahagia mencari cara untuk keluar dari keadaan itu, dan menolong orang lain merupakan pilihannya. Tapi pakar psikologi lain tidak meyakini peran suasana hati yang negatif itu dalam altruisme.
2.      Empati.
Menolong orang lain membuat kita merasa enak. Tapi bisakah kita menolong orang lain tanpa dilatarbelakangi motivasi yang mementingkan diri sendiri (selfish)? Menurut Daniel Batson bisa, yaitu dengan empati (pengalaman menempatkan diri pada keadaan emosi orang lain seolah-olah mengalaminya sendiri). Empati inilah yang menurut Batson akan mendorong orang untuk melakukan pertolongan altruistis.
3.      Meyakini Keadilan Dunia.
Faktor lain yang mendorong terjadinya altruisme adalah keyakinan akan adanya keadilan di dunia (just world), yaitu keyakinan bahwa dalam jangka panjang yang salah akan dihukum dan yang baik akan dapat ganjaran. Menurut teori Melvin Lerner, orang yang keyakinannya kuat terhadap keadilan dunia akan termotivasi untuk mencoba memperbaiki keadaan ketika mereka melihat orang yang tidak bersalah menderita. Maka tanpa pikir panjang mereka segera bertindak memberi pertolongan jika ada orang yang kemalangan.
4.      Faktor Sosiobiologis.
Secara sepintas perilaku altruistis memberi kesan kontraproduktif, mengandung risiko tinggi termasuk terluka dan bahkan mati. Ketika orang yang ditolong bisa selamat, yang menolong mungkin malah tidak selamat. Perilaku seperti itu antara lain muncul karena ada proses adaptasi dengan lingkungan terdekat, dalam hal ini orangtua. Selain itu, meskipun minimal, ada pula peran kontribusi unsur genetik.
5.      Faktor Situasional.
Apakah ada karakter tertentu yang membuat seseorang menjadi altruistis? Belum ada penelitian yang membuktikannya. Yang lebih diyakini adalah bahwa seseorang menjadi penolong lebih sebagai produk lingkungan daripada faktor yang ada pada dirinya.
6.      Faktor Penghayatan Terhadap Agama
Agama manapun di dunia ini semuanya menganjurkan perilaku menolong. Sehingga semakin tinggi tingkat penghayatan keagamaan seseorang, maka semakin tinggi pula perilaku menolongnya. Perilaku menolong didasari karena sikap berbakti kepada manusia sebagai wujud ketaatannya kepada Tuhan. Sebagai orang yang beriman pada Tuhan, tentu saja spiritualitas ini dikembangkan melalui persatuan dengan Tuhan, juga dengan sesama umat manusia dan alam semesta ciptaan-Nya. Dengan itu, prososial akan menjadi ciri khas yang melekat dalam diri seseorang karena orang lain disadari sebagai bagian dari hidupnya. Prososial bukan lagi berupa tindakan temporer yang disertai pamrih pribadi.
2.        Prososial
2.1  Pengertian Prososial
Perilaku prososial adalah perilaku yang bermanfaat atau memiliki efek positif bagi orang lain (Staub 1978; Wispe 1972). Istilah prososial berlawanan dengan istilah anti sosial yang diterapkan untuk perilaku agresif atau kekerasan. Perilaku-perilaku yang dapat dipandang sebagai prososial adalah memberikan pertolongan dalam situasi darurat, beramal (charity), kerja sama, donasi, membantu, berkorban, dan berbagi. Dalam tulisan ini yang menjadi fokus adalah perilaku menolong dalam kondisi darurat, yang lebih memberikan manfaat bagi orang lain, bukan bagi diri sendiri.
2.2  Pengambilan Keputusan dalam Menolong
Dalam situasi-situasi khusus, kita harus memutuskan untuk menolong atau tidak. Terdapat beberapa model yang menggambarkan bahwa keputusan tersebut melalui tahapan-tahapan. Model-model tersebut menekankan proses kognitif dan juga emosi-emosi sebagai motivator perilaku menolong. Berikut adalah model arousal / cost-reward dari Jane Piliavin dkk (1981), yang diterapkan dalam kondisi darurat, dan dapat diperluas untuk kondisi-kondisi yang bukan darurat. Terdiri dari lima langkah:
a.       Menyadari adanya kebutuhan seseorang untuk ditolong.
b.      Mengalami arousal
c.       Menginterpretasikan pemicu arousal yang dialaminya dan memberinya nama
d.      Memperhitungkan untung/rugi dari beberapa alternatif tindakan
e.       Membuat keputusan dan mengambil tindakan tertentu.
2.3  Situasi-Situasi yang Mempengaruhi Perilaku Prososial
Situasi-situasi yang mempengaruhi perilaku prososial sangat bervariasi, dari situasi yang darurat (emergencies) hingga yang bukan darurat (nonemergencies), dari situasi yang kabur (ambiguous) hingga yang jelas (clearcut). Dengan demikian tingkat gejolak emosi dan faktor-faktor cost-reward yang dipertimbangkan juga sangat bervariasi antara situasi yang satu dengan situasi yang lainnya.
1.      Orang Yang Berada Dalam Situasi Membutuhkan Bantuan
Untuk memutuskan apakah seseorang memerlukan bantuan, hal yang dipertimbangkan adalah :
a.       Ciri-ciri Kebutuhan :
(1)        Kejelasan kebutuhan. Calon penolong lebih mungkin memberikan pertolongan jika kebutuhan korban cukup jelas, tidak samar-samar. Contoh : Korban kecelakaan atau bencana alam lebih jelas membutuhkan bantuan dari pada orang miskin di kota.
(2)        Legitimasi (keabsahan) kebutuhan seseorang. Kebutuhan yang dianggap lebih sah, lebih mungkin untuk diberikan bantuan. Contoh : pengemis yang meminta uang untuk membelikan susu anaknya lebih mungkin dibantu dari pada pengemis yang meminta uang untuk membeli kue donat.
(3)        Penerimaan atas sebab-sebab kebutuhan seseorang. Calon penolong lebih mungkin memberikan pertolongan jika penyebab kebutuhan yang diajukan dapat diterima. Contoh : mahasiswa yang meminjam catatan kuliah karena tidak dapat mencatat dengan baik lebih mungkin ditolong daripada mahasiswa yang malas dan cenderung bersantai-santai di kelas.
b.      Relasi/ hubungannya dengan calon penolong.
-          Dalam hubungan antar anggota keluarga dan sahabat terdapat saling ketergantungan dan kewajiban untuk saling membantu. Dalam kehidupan sehari-hari kita lebih banyak menolong keluarga dan sahabat dari pada menolong orang lain.
-          Emosi kita lebih terbangkitkan/bergejolak dan lebih termotivasi untuk menolong jika keluarga atau sahabat kita mengalami kesulitan dari pada jika orang lain yang mengalami kesulitan.
-          Pada umumnya kita juga cenderung memberikan bantuan untuk orang yang memiliki kesamaan dengan diri kita atau yang memiliki daya tarik.
2.      Pengaruh Keberadaan Orang-orang Lain
Berdasarkan eksperimen yang dilakukan oleh Darley & Latane (1968), serta studi yang dilakukan oleh Latane & Nida (1981) terhadap 40 penelitian, disimpulkan bahwa keberadaan orang-orang lain akan menurunkan kemungkinan seseorang menolong korban situasi darurat (misal, korban kecelakaan lalu lintas atau perampokan), dan juga menurunkan kemungkinan korban menerima bantuan.
o   Latane & Nida (1981) menyimpulkan bahwa efek keberadaan orang-orang lain tersebut sangat konsisten/ajeg, dan bahwa perbedaan keinginan menolong terbesar ditemukan antara saksi tunggal dengan saksi yang lebih dari satu orang.
o   Hasil eksperimen Darley & Latane (1968) :
Latane dkk berpendapat bahwa terdapat tiga proses sosial yang menjadi penyebab dari pengaruh keberadaan orang-orang lain tersebut, yaitu :
a.       Proses Pengaruh Sosial (social influence process) : Saksi mengamati orang lain untuk membantu menginterpretasikan dana memutuskan apa yang akan dilakukan, dan mereka dapat menyimpulkan bahwa korban tidak terlalu memerlukan bantuan jika orang-orang lain tidak menunjukkan tanda-tanda untuk bertindak.
b.      Hambatan dari saksi-saksi lain (audience inhibition) atau ketakutan akan penilaian orang lain (evaluation apprehension) : Para saksi mengkhawatirkan bagaimana orang-orang lain akan menilai perilakunya. Pikiran bahwa dirinya menghadapi resiko akan menghambat pertolongan.
c.       Kekaburan tanggung jawab (diffusion of responsibility) : Bila terdapat beberapa orang yang berpotensi menolong maka tanggung jawab untuk bertindak terbagi, sehingga tiap-tiap individu mungkin menjadi kurang tanggung jawabnya untuk bertindak.
Catatan : Namun demikian, pengaruh keberadaan orang-orang lain seperti dijelaskan di atas dapat dihindari. Sebagai contoh, bila peristiwanya jelas-jelas merupakan situasi darurat dan para saksi memberikan reaksi, dan bila para saksi bagaimanapun juga merasakan adanya tanggungjawab pribadi untuk bertindak (karena rasa tanggung jawab itu sendiri ataupun karena keahliannya).
2.4  Pengaruh-Pengaruh Pribadi Terhadap Perilaku Prososial
Pada bagian ini dijelaskan bagaimana karakteristik individu ikut mempengaruhi perilaku prososialnya.
a.    Menurut jenis kelamin : Jenis kelamin tertentu lebih memungkinkan untuk menolong, tergantung bagaimana situasinya (Eagly & Crowley, 1986). Contoh :
-          Laki-laki lebih mungkin menolong dalam situasi darurat yang membahayakan.
-          Perempuan lebih mungkin untuk memberikan bantuan dan dukungan emosional dalam situasi sehari-hari karena peran gender tradisionalnya sebagai perawat/pengasuh.
b.    Tempat tinggal di kota besar atau di kota kecil /daerah pinggiran : Orang yang tinggal di daerah pinggiran dan kota kecil lebih suka menolong dalam berbagai situasi daripada orang-orang yang tinggal di kota besar (House & Wolf, 1978; Steblay,1987).
Hipotesis urban-overload, diusulkan oleh Milgram (1970) : Orang yang tinggal di kota besar harus selektif dalam menghadapi stimulasi lingkungan yang lebih tinggi/kompleks atau mereka tidak dapat berfungsi. Dengan demikian mereka mengabaikan kebutuhan orang lain, mengancam orang lain secara kasar, dan memilih-milih untuk menolong orang lain.
c.    Contoh dari orang tua : Dari penelitian ditemukan bahwa para altruis (orang yang menolong demi mengurangi penderitaan korban, bukan demi dirinya sendiri), misalnya para penolong orang Yahudi yang terancam Nazi yang penuh resiko selama Perang Dunia II, telah diasuh secara kuat oleh orang tua yang memiliki standard moral yang tinggi, sungguh-sungguh merawat, dan mendidik anaknya untuk peduli terhadap kemanusiaan, tidak hanya untuk kelompoknya sendiri (Fogelman & Wiener, 1985; London, 1970; Oliner & Oliner, 1988).



BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Altruisme adalah bentuk khusus perilaku menolong yang dilakukan dengan suka rela, merugikan bagi pelakunya, dan terutama dimotivasi oleh kebutuhan untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain, bukan untuk mengharapkan imbalan. Perilaku prososial adalah perilaku yang bermanfaat atau memiliki efek positif bagi orang lain (Staub 1978; Wispe 1972). Istilah prososial berlawanan dengan istilah anti sosial yang diterapkan untuk perilaku agresif atau kekerasan. Perilaku-perilaku yang dapat dipandang sebagai prososial adalah memberikan pertolongan dalam situasi darurat, beramal (charity), kerja sama, donasi, membantu, berkorban, dan berbagi. Dalam tulisan ini yang menjadi fokus adalah perilaku menolong dalam kondisi darurat, yang lebih memberikan manfaat bagi orang lain, bukan bagi diri sendiri.
2.      Saran
Seperti yang kita ketahui dari penjelasan altruisme dan prososial di atas, kami berharap bahwa masyarakat atau pembaca dapat bersikap mau menolong sesama sesuai dengan kondisi-kondisi tertentu. Kita tidak harus selalu menolong orang lain melainkan pada kondisi-kondisi yang dituliskan di atas.



DAFTAR PUSTAKA
Sarwono, Sarlito Wirawan.2005.Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka
Klara Inata Arishanti.2006.Handout Psikologi Sosial. Depok: Universitas Gunadharma

No comments:

Post a Comment