BAB
II
ISI
A.
Pengertian
Inteligensi
berasal dari kata Latin, yaitu intellegere,
yang berarti memahami. Sehubungan dengan pengertian inteligensi ini, ada yang
mendefinisikan inteligensi sebagai: “Kemampuan untuk berpikir secara abstrak” (Terman);
“Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya” (Colvin); ada pula
yang mendefinisikan inteligensi sebagai “Intelek plus pengetahuan” (Henmon);
“Teknik untuk memproses informasi yang disediakan oleh indra” (Hunt).
Berikut
ini akan dikemukakan beberapa definisi yang dirumuskan oleh para ahli.
1. S.C.
Utami Munandar
Secara umum inteligensi
dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Kemampuan
untuk berfikir abstrak;
b. Kemampuan
untuk menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar;
c. Kemampuan
untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.
2. Alfred
Binet
Inteligensi mempunyai tiga
aspek kemampuan, yaitu:
a. Direction,
kemampuan untuk memutuskan pada suatu masalah yang harus dipecahkan.
b. Adaptation,
kemampuan untuk mengadakan adaptasi terhadap masalah yang dihadapinya atau
fleksibel dalam menghadapi masalah.
c. Criticism,
kemampuan untuk mengadakan kritik, baik terhadap masalah yang dihadapi maupun
terhadap dirinya sendiri.
3. L.L.
Thurstone
Ia mengemukakan teori multifaktor yang meliputi 13
faktor. Di antara ketiga belas faktor tersebut, ada 7 faktor yang merupakan
faktor dasar (primary abilities),
yaitu:
a. Verbal comprehension (V)
b. Word fluency (W)
c. Number (N)
d. Space (S)
e. Memory (M)
f. Perceptual (P)
g. Reasoning (R)
4. Edward
Thorndike
Thorndike mengemukakan bahwa: "Intelligence is demonstrable in ability of the individual to make good
responses from the stand point of truth or fact" (Inteligensi adalah
kemampuan individu untuk memberikan respons yang tepat (baik) terhadap
stimulasi yang diterimanya).
5. George
D. Stodard
Stodard mengartikan inteligensi, sebagai berikut:
"Inteligensi adalah kecakapan dalam menyatakan tingkah laku, yang memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
a. mempunyai
tingkat kesukaran;
b. kompleks;
c. abstrak;
d. ekonomis;
e. memiliki
nilai-nilai sosial;
f. memiliki
daya adaptasi dengan tujuan;
g. menunjukkan
kemurnian (original).
6. William
Stern
Stern mengemukakan bahwa: "Inteligensi merupakan
kapasitas atau kecakapan umum pada individu secara sadar untuk menyesuaikan
pikirannya pada situasi yang dihadapinya".
7. Lewis
Medison Terman
Menurut Terman, inteligensi terdiri atas dua faktor,
yakni:
"General ability (faktor G), yaitu
kecakapan umum" dan "Special
ability (faktor S), yaitu kecakapan khusus". Faktor G dan faktor S
bukan merupakan faktor yang terpisah, tetapi bekerja sama sebagai kesatuan yang
bulat. Teori dari Terman ini dikenal dengan teori dwi faktor (two factor theory) ".
8. Carl
Whitherington
Dalam bukunya Educational Psychology, Whitherington
mendefinisikan inteligensi sebagai berikut: "... exellence of performance as manifested in efficient activity"
(...inteligensi adalah kesempurnaan bertindak sebagaimana dimanifestasikan
dalam kemampuan-kemampuan/kegiatan-kegiatan) berikut:
a. Facility in the use of numbers
(fasilitas dalam menggunakan bilangan dan angka).
b. Language effeciency
(efisiensi penggunaan bahasa).
c. Speed of perception
(kecepatan pengamatan).
d. Facility in memorizing
(fasilitas dalam mengingat).
e. Facility in comprehending relationship
(fasilitas dalam memahami hubungan).
f.
Imagination
(menghayal atau mencipta) (Effendi & Praja, 1993).
Menurut
Whitherington, sebutan inteligensi atau kecerdasan sebetulnya kurang tepat.
Yang lebih tepat adalah "kelakuan cerdas". Alasannya, kalau disebut
inteligensi, seakan-akan inteligensi itu melekat pada badan, seperti hidung,
telinga, sedangkan, menurutnya, inteligensi bukan merupakan suatu benda
(substansi), melainkan suatu pengertian. Jadi, inteligensi tidak lain dari
pengertian, kumpulan kelakuan yang menunjukkan hal yang cerdas.
Selanjutnya,
Whitherington memberi batasan tentang pengertian, sebagai "suatu arti
umum, yang diabstraksikan (ditarik) dari suatu deret atau kelompok arti khusus
dalam keadaan khusus".
Pengertian
itu, dalam pandangan Whitherington, mempunyai isi dan luas. Isi pengertian
ialah segenap ciri-ciri hakiki (ciri yang harus ada) dari suatu pengertian.
Dan, luas pengertian ialah segenap hal yang ada pada pengertian tersebut.
Dengan
demikian, dapatlah disebut bahwa inteligensi adalah kesempurnaan perbuatan
kecerdasan. Yang dimaksud kecerdasan ialah kecerdasan (activity) yang efisien.
Dan dikatakan efisien, apabila memenuhi ketiga ciri-ciri hakiki inteligensi
tadi.
B.
Ciri-Ciri
Pengertian
inteligensi, menurut .Whitherington, mempunyai ciri-ciri hakiki berikut.
(1) Cepat;
makin cepat suatu pekerjaan diselesaikan, makin cerdaslah orang yang
menyelesaikan.
(2)
Cekatan; biasanya dihubungkan dengan pekerjaan tangan; dengan mudah dan ringkas
menjelaskan sesuatu.
(3)
Tepat; sesuai dengan tuntutan keadaan
Dikatakan, suatu perbuatan
dapat dianggap inteligen, bila memenuhi syarat antara lain (Purwanto,
1998:54-55):
(1)
Masalah yang dihadapi, sedikit banyak merupakan masalah yang baru bagi yang
bersangkutan. Umpamanya, ada soal: "Mengapa api jika ditutup dengan
sehelai karung bisa padam?" Apabila ditanyakan kepada anak yang baru
bersekolah dan is dapat menjawab dengan betul, jawaban itu inteligen. Akan
tetapi, jika pertanyaan itu dijawab oleh anak yang baru mendapat pelajaran ilmu
alam tentang api, hal itu tidak dapat dikatakan inteligen.
(2)
Perbuatan inteligen, sifatnya serasi tujuan dan ekonomis. Untuk mencapai tujuan
yang hendak diselesaikan, dicarikan jalan yang dapat menghemat waktu maupun
tenaga.
(3)
Masalah yang dihadapi, harus mengandung tingkat kesulitan bagi yang
bersangkutan. Ada suatu masalah yang'bagi orang dewasa mudah dipecahkan atau
dijawab, hampir tanpa harus berpikir; sedangkan bagi anak-anak, harus dijawab
dengan berpikir. Apabila seorang anak bisa menjawab, jawaban anak itu
inteligen.
(4) Keterangan
pemecahannya harus dapat diterima oleh masyarakat. Misalnya, apa yang harus
Anda perbuat jika Anda lapar? Kalau dijawabnya "saya harus mencuri
makanan", tentu saja jawaban itu tidak inteligen.
(5)
Perbuatan inteligen sering kali menggunakan daya mengabstraksi. Pada waktu
berpikir, tanggapan dan ingatan yang tidak perlu, harus disingkirkan. Apakah
persamaan antara jendela dan daun? Jawaban yang benar memerlukan daya
mengabstraksi.
(6)
Perbuatan inteligen bercirikan kecepatan. Proses pemecahannya relatif cepat,
sesuai dengan masalah yang dihadapi. y
(7)
Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang mengganggu
jalannya pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Apa yang akan Anda lakukan
jika Anda melihat orang tertabrak mobil dan pertolongan Anda' sangat
diperlukan?
Ciri-ciri tingkah laku
inteligen' berikut irii, sedikit banyak bisa memperjelas atau menambah pendapat
Whitherington dan pendapat Purwanto.
Menurut Effendi & Praja
(1993), beberapa ciri tingkah laku yang inteligen ialah berikut ini.
(1) Purposeful
behavior, artinya tingkah laku yang inteligen, selalu torah pada tujuan
atau mempunyai tujuan yang jelas.
(2) Organized
behavior, artinya tingkah laku yang terkoordinasi, semua tenaga dan
alat-alat yang diperlukan dalam suatu pemecahan masalah berada dalam suatu
koordinasi. Tidak acak-acakan.
(3) Physical
well toned behavior, artinya memiliki sikap jasmaniah yang baik, penuh
tenaga dan tangkas atau lincah.
(4) Adaptable behavior, artinya tingkah laku
yang luas fleksibel, tidak statis dan kaku, tetapi selalu siap untuk mengadakan
penyesuaian/perubahan terhadap situasi yang baru.
(5) Success
oriented behavior, artinya tingkah laku yang didasari perasaan aman,
tenang, gairah, dan penuh kepercayaan akan sukses/optimis.
(6) Clearly
motivated behavior, artinya tingkah laku yang dapat memenuhi kebutuhannya
dan bermanfaat bagi orang lain atau masyarakat.
(7) Rapid behavior, yaitu tingkah laku yang
efisien, efektif, dan cepat atau menggunakan waktu yang singkat.
(8) Broad behavior, yaitu tingkah laku yang
mempunyai latar belakang dan pandangan luas yang meliputi sikap dasar serta
jiwa yang terbuka.
C.
Hubungan
Inteligensi dengan Kreativitas
Kreativitas
merupakan suatu bidang kajian yang sulit, yang menimbulkan perbedaan pandangan.
Biasanya, perbedaan itu terletak pada definisi kreativitas, kriteria perilaku
kreatif, proses kreatif, hubungan kreativitas dan inteligensi, karakteristik
orang kreatif, korelat-korelat kreativitas, dan upaya untuk mengembangkan
kreativitas. Tidak ada satu definisi pun . yang dianggap dapat mewakili
pemahaman yang beragam tentang kreativitas. Hal ini disebabkan dua alasan.
Pertama, sebagai suatu "konstruk hipotesis", kreativitas merupakan
ranah psikologis yang kompleks dan multidimensional, yang mengandung berbagai
tafsiran yang beragam. Kedua, definisi kreativitas memberikan tekanan yang
berbeda-beda, bergantung pada dasar teori yang menjadi acuan pembuat definisi
(Supriadi, 1994:6).
Dilihat
dari segi penekanannya, definisi kreativitas dapat dibedakan dalam dimensi person,
proses, produk, dan press. Rhodes (1961) menyebut keempat dimensi kreativitas
tersebut sebagai "the Four P's of Creativity". Definisi kreativitas
yang menekankan dimensi person dikemukakan, misalnya, oleh Guilford (1950):
"Creativity refers to the abilities
that are characteristics of creative people". Definisi yang menekankan
segi proses diajukan oleh Munandar'(1977): "Creativity is a process that manifests itself influency, inflexibility
as well in originality of thinking". Definisi yang menekankan segi
produk, dikemukakan oleh Barron (1976) yaitu: "the ability to bring something new into existence". Segi
produk ini juga ditekankan oleh Semiawan dan kawan-kawan (1984), yakni :
"Kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru. Tidak perlu seluruh produk
yang harus baru, mungkin saja gabungannya, kombinasinya, sedangkan
unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya". Sementara, Amabile (1983), seperti
dikutip Supriadi (1994), mengemukakan, "Creativity can be regarded as the quality of products or responses
judged to be creative by appropriate observers".
D.
Tes
Inteligensi
Tes
inteligensi adalah tes yang bertujuan mengukur inteligensi -dan inteligensi
adalah apa yang diukur oleh tes inteligensi. Kita dapat memutuskan lingkaran
yang membingungkan ini dengan meninjau perkembangan tes inteligensi (tes IQ)
untuk melihat apa yang dimaksudkan ahli psikologi dengan perilaku cerdas.
Pada
tahun 1933, seorang ahli psikologi berkebangsaan Inggris, Cyril Burt, menulis
(Silva & Hunt, 1986): Melalui inteligensi, ahli psikologi bisa memahami
kemampuan intelektual keseluruhan yang dibawa sejak lahir. Kemampuan tersebut
diwariskan, atau paling tidak bawaan, tidak ada kaitannya dengan pengajaran
atau pelatihan; kemampuan itu intelektual, bukan emosional atau moral, dan tidak
terpengaruh oleh kerajinan atau semangat; kemampuan tersebut umum, tidak
khusus, yaitu tidak terbatas pada jenis pekerjaan tertentu, tetapi masuk ke
dalam semua yang kita lakukan, atau kita katakan, atau kita pikirkan. Dari
semua kualitas mental kita, inilah yang paling jauh jangkauannya. Untunglah
kemampuan itu dapat diukur dengan tepat dan mudah.
Untuk
menghasilkan kualitas tes yang baik, memang diperlukan metode pengukuran yang
signifikan. Hasilnya harus tidak bersifat kebetulan.
Sternberg
(1985), seperti dikutip Rita L. Atkinson dan kawan-kawan, dalam upaya
menggeneralisasikan pendekatannya, berpendapat bahwa teori komprehensif tentang
inteligensi melibatkan proses komponen yang jauh lebih besar dari yang
ditemukan oleh ahli psikologi masa lalu, yang bekerja di lingkungan
laboratorium yang terbatas, atau dalam situasi tes yang tipikal. Sternberg
menyatakan bahwa komponen yang lebih besar ini berhubungan bukan hanya dengan
"inteligensi akademik", tetapi juga "inteligensi praktis".
Komponen ini dapat disusun dalam empat kelompok, yang dapat dilabel secara
kasar sebagai berikut:
(1) Kemampuan untuk berpikir dan mengambil
pelaj aran dari pengalaman.
(2) Kemampuan untuk berpikir atau menalar
secara abstrak.
(3) Kemampuan untuk beradaptasi dengan hal-hal
yang timbul dari dunia yang selalu berubah dan tidak pasti.
(4) Kemampuan untuk memotivasi diri sendiri
guna menyelesaikan secara tepat tugas-tugas yang perlu diselesaikan.
E.
Perkembangan
dan Penggunaan Tes Inteligensi
Charles
Darwin sebagai seorang naturalis dan ahli matematika, Galton yakin bahwa
keluarga tertentu secara biologis adalah unggul - Iebih kuat dan lebih cerdas -
dibandingkan keluarga lain. Inteligensi, menurutnya, adalah masalah
keterampilan sensorik-perseptual yang luar biasa, yang diturunkan dari satu
generasi ke generasi selanjutnya. Karena semua informasi didapatkan melalui
indra, semakin sensitif dan akurat alat persepsi seseorang, semakin cerdas
orang itu.
Galton mendasarkan tes
inteligensinya pada asumsi bahwa keunggulan inteligensi seseorang tercermin
dalam keunggulan kekuatan fisiknya. Dengan demikian, variabel yang diukur dalam
tes inteligensinya adalah ukuran batok kepala, ketajaman penglihatan, ingatan
terhadap bentuk visual, kemampuan bernafas, dan kekuatan genggaman tangan.
Berikut
ini merupakan beberapa contoh item dari skala yang asli, yang diterbitkan tahun
1908, yang menunjukkan jenis-jenis kemampuan yang dianggap rata-rata bagi
anak-anak pada tingkatan umur tiga dan tujuh tahun (Mahmud, 1990):
Umur 3 (tiga) tahun:
a. kemampuan menunjuk hidung, mata, mulut;
b. mengulang-ulang dua angka;
c. kemampuan menyebut nama akhir;
d. memberi nama pada objek-objek pada sebuah gambar;
e. mengulang-ulang kalimat yang terdiri atas enam suku kata.
Umur 7 (tujuh) tahun:
a. kemampuan memberi nama pada sesuatu yang
hilang dalam gambar - gambar yang sudah dikenal, tetapi belum selesai;
b. mengetahui jumlah jari tangan kanan dan kiri tanpa menghitungnya;
c. kemampuan mencontoh jajaran genjang;
d. mengulang lima angka;
e. menghitung tiga belas sen;
f. mengetahui nama empat macam uang logam.
Lewis
Terman tetap mempertahankan konsep Binet mengenai usia mental. Setiap butir tes
disesuaikan dengan usia pada tingkat yang sebagian besar anak menempuhnya. Usia
mental anak didapatkan dengan menjumlahkan banyak butir soal yang dijawab
secara tepat pada tiap tingkat usia. Di samping itu, Terman menerapkan indeks
inteligensi praktis, yang disarankan oleh ahli psikologi Jrman, William Stern.
Indeks ini adalah intellegence quotient,
yang lazim dikenal sebagai IQ. Indeks ini mengekspresikan inteligensi sebagai
rasio usia mental (MA) terhadap usia kronologis (CA):
IQ =
X 100
100 digunakan sebagai
pengali, sehingga IQ memiliki nilai 100 jika MA sama dengan CA. Jika MA lebih
rendah dari CA, maka IQ lebih kecil dari 100; jika MA lebih tinggi dari CA,
maka IQ lebih tinggi dari 100.
Berikut
adalah contoh tipikal soal dari Stanford-Binet Intelligence Scale, revisi 1986,
untuk anak usia 6 sampai 8 tahun, yang dikelompokkan menurut bidangnya,
sebagaimana dikutip Rita L. Atkinson dan kawan-kawan, dalam buku mereka,
Introduction to Psychology:
a. Penalaran verbal,
1)
Perbendaharaan kata (vocabulary):
2)
Pemahaman (comprehension):
3)
Keganjilan (absurdities):
4)
Hubungan verbal (verbal relation)
b. Penalaran Kuantitatif
1) Kuantitatif
(quantitative)
2) Urutan angka (number
series)
3) Membentuk persamaan (equation building)
c. Penalaran Abstrak/Visual
1) Analisis pola (pattern
analysis)
2) Mencontoh gambar
(copying)
d. Memori Jangka Pendek
1) Mengingat bentuk (bead memory)
2) Mengingat kalimat (memory
for sentences)
3) Mengingat angka (memory
for digits)
4) Mengingat benda (memory
for objects)
Selanjutnya, beberapa ciri dari tiap-tiap
tingkat inteligensi tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut (Mahmud, 1990;
Effendi & Praia, 1993):
a.
Cacat Mental (Mentally Deficient/Feeble Minded)
Ciri-ciri
umum dari orang yang cacat mental adalah:
(1)
tidak dapat mengurus dan memenuhi kebutuhannya sendiri;
(2)
kelambatan mental sejak lahir;
(3)
kelambatan dalam kematangan;
(4)
pada dasarnya tidak _ dapat diobati.
b.
Idiot (IQ 0 - 19)
Idiot
(idiocy) adalah suatu istilah yuridis dan paedagogis, yang diperuntukkan bagi
mereka yang lemah pikiran tingkat paling rendah.
Ciri-ciri
umum idiocy, antara lain:
(1) Fisiknya
lemah, tidak tahan terhadap penyakit, dan tidak mengenal bahaya, karena itu,
orang-orang semacam ini umurnya tidak panjang.
(2) Beberapa
idiot dapat belajar berjalan, tetapi pada umumnya mereka tidak mampu dan harus
tetap tinggal berbaring selama hidupnya.
(3)
Tidak mengenal rasa senang dan rasa sakit.
(4)
Tidak bisa berbicara dan hanya mengenal beberapa kata saja.
(5) Tidak
mampu mengurus diri sendiri, sehingga mereka harus dibantu dalam hal mandi,
berpakaian, dan buang air, meskipun menurut umurnya sudah "dewasa".
(6) Ada
yang garang dan bersifat destruktif, baik terhadap dirinya sendiri maupun
terhadap sekelilingnya.
c.
Embicile (IQ 20 - 49)
Ciri-ciri
umum embicile, di antaranya:
(1) Tidak dapat dididik di sekolah yang
diperuntukkan bagi anak-anak normal.
(2) Walaupun dapat mengurus dirinya sendiri,
mereka masih memerlukan pengawasan yang teliti dan memerlukan kesabaran.
(3) Pada waktu bayi, mereka sangat tidak responsif dan apatis
sekali.
(4) Mereka umumnya baru bisa berjalan sendiri pada umur tiga atau
empat tahun, dan baru pada umur lima tahun mereka berbicara.
(5) Kebiasaan
makan dan keberhasilannya terbelakang tiga sampai empat tahun.
(6) Mereka
dapat diajari mengenal bahaya, seperti bahaya api, bahaya tenggelam di air yang
dalam, dan sebagainya.
d.
Moron (IQ 50 - 69)
Ciri-ciri
moron adalah:
(1) Di
sekolah, mereka jarang bisa mencapai lebih dari kelas lima.
(2) Sampai
pada tingkat tertentu, mereka dapat belajar membaca, menulis dan berhitung
dalam perhitungan-perhitungan yang sederhana.
(3) Mereka dapat mempelajari pekerjaan-pekerjaan rutin dan bisa
terus-menerus melakukan pekerjaan itu selama tidak mengalami perubahan-perubahan
yang berarti.
(4) Angka pelanggaran hukum adalah tertinggi di antara gadis-gadis
yang moron; para pencuri dan pelacur sering berasal dari golongan moron ini.
(5) Mereka juga memiliki dorongan, keinginan, dan emosi yang normal,
tetapi tidak mempunyai kecerdasan untuk mengontrol atau meramalkan
akibat-akibat perbuatannya.
e.
Inferior (IQ 70 - 79)
Ini
merupakan kelompok tersendiri dari individu-individu terbelakang. Kecakapan
pada umumnya hampir sama dengan kelompok embicile, namun kelompok ini mempunyai
kecakapan tertentu yang melebihi kecerdasannya; misalnya dalam bidang musik.
f.
Bodoh (IQ 80 - 89)
Pada
umumnya kelompok ini agak lambat dalam mencema pelajaran di sekolah. Meskipun
demikian, mereka dapat menyelesaikan pendidikannya pada tingkat SLT1 namun agak
sulit untuk menyelesaikan pendidikan SLTA.
g.
Normal/Rata-rata (IQ 90 - 109)
Kelompok
ini merupakan kelompok yang terbesar persentasenya di antara populasi. Mereka
mempunyai IQ yang sedang, normal, atau rata-rata.
h.
Pandai (IQ 110 - 119)
Kelompok
ini pada umumnya mampu menyelesaikan pendidikan tingkat universitas. atau
perguruan tinggi. Jika bersatu dengan kelompok normal, mereka biasanya merupakan
"repid learner" atau "giveted", yaitu pemimpin dalam
kelasnya.
i.
Superior (IQ 120 - 129)
Ciri-ciri
dari kelompok superior ini, antara lain: lebih cakap dalam membaca, berhitung;
perbendaharaan bahasanya luas, cepat memahami pengertian yang abstrak, dan
mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibanding dengan orang-orang yang
termasuk kelompok pandai. Demikian pula dengan kesehatan dan ketahanannya lebih
baik daripada orang-orang normal.
j.
Sangat Superior (IQ 130 - 139)
Kelompok
ini termasuk kelompok superior yang berbeda pada tingkat rertinggi dalam
kelompok tersebut. Umumnya, tidak ada perbedaan yang mepcolok dengan kelompok
superior.
k.
Gifted (IQ 140 - 179)
Yang
termasuk dalam golongan ini ialah mereka yang tidak genius, retapi menonjol dan
terkenal. Bakatnya sudah tampak sejak kecil dan prestasinya, biasanya, melebihi
teman sekelasnya. Jika dibandingkan dengan crang normal, adjustment-nya
terhadap berbagai problem hidup lebih baik. Sekitar 80 Persen di antara mereka
ini dapat menyelesaikan studi di perguruan tinggi dengan prestasi yang
memuaskan. Jabatan yang dipegangnya ptm banyak, dan jarang sakit atau meninggal
dunia pada usia muda.
l.
Genius (IQ 180 ke atas)
Pada
kelompok ini, bakat dan keistimewaannya telah tampak sejak kecil. Misalnya,
umur dua tahun mulai belajar membaca, dan pada umur empat tahun belajar bahasa
asing. Kelompok ini mempunyai kecerdasan yang sangat luar biasa. Walaupun tidak
sekolah, mereka mampu menemukan dan rzmecahkan suatu masalah. Jumlahnya sangat
sedikit, namun terdapat pada semua ras dan bangsa, semua jenis kelamin, serta
dalam semua tingkatan anato nomi. Contoh orang-orang jenius, antara lain: John
Stuart Mill (IQ 200), Francis Galton (IQ 200), dan Goethe (IQ 185). Para
psikolog klinis umumnya -berpendapat bahwa mereka akan mengalami
problem-problem khusus dalam perembangan sosial dan emosinya.
F.
Faktor-Faktor
yang Berpengaruh terhadap Perubahan Inteligensi
(1) Anak tidak memiliki taraf kecerdasan yang
sudah terbentuk dan tidak juga memiliki tempo perkembangan yang tidak bisa
diubah. Lingkungan dapat meningkatkan ataupun menurunkan taraf kecerdasan anak,
terutama pada masa-masa permulaan kehidupannya.
(2) Rangsangan di masa kecil bisa mengubah ukuran
dan fungsi kimiawi dari otak.
(3) Faktor keturunan menentukan batas tertinggi
bagi taraf kecerdasan anak tetapi batas ini demikian tinggi sehingga para
sarjana yakin, tidak seorang manusia pun yang pernah mencapainya.
(4) Perubahan-perubahan dalam kemampuan mental,
paling besar terjadi pada saat otak mengalami pertumbuhan yang paling pesat.
Sementara, pertumbuhan otak semakin menurun dengan bertambahnya umur.
(5) Pada umur 4 tahun, anak telah mencapai
separuh dari kemampuan kecerdasannya, dan pada umur 8 tahun, is mencapai 80%.
Setelah umur 8 tahun, tanpa melihat bentuk pendidikan dan lingkungan yang
diperoleh anak, kemampuan kecerdasannya hanya dapat diubah sebanyak 20%.
(6) Cortex dari otak seorang anak secara kasar
dapat dibandingkan dengan sebuah komputer, yang perlu diberi
"program" sebelum dapat bekerja secara efektif. Anak memberi program
pada otaknya dengan jalan mengirimkan rangsangan-rangsangan sensorik yang
berasal dari mata, telinga, hidung, mulut, dan perabaan ke otak melalui
saraf-saraf. Lebih banyak rangsangan sensorik yang merangsang otak, lebih besar
pula kemampuan otak untuk berfungsi secara cerdas.
(7) Ada suatu batas waktu ketika sel-sel otak
tidak dapat digiatkan lagi dengan mudah.
(8) Terdapat masa-masa peka pada kehidupan anak
terhadap beberapa jenis belajar. Masa peka ini merupakan tingkatan dalam perkembangan
ketika keadaan otak sedang tumbuh, sehingga memudahkan anak untuk melakukan
beberapa jenis belajar tertentu. Setelah masa peka ini lewat, anak akan sulit
atau kadang-kadang tidak mungkin lagi, melakukan jenis belajar tersebut.
(9) Dalam perkembangan bicara, tercakup di
dalamnya faktor kecerdasan. Belajar berbicara dengan baik, sebenarnya cukup
sulit, tetapi anak¬anak berhasil melakukannya sebelum umur 5 tahun.
(10)Sifat
fisiologis otak memungkinkan anak lebih mudah belajar bahasa kedua, atau ketiga,
pada tahun-tahun pertama dari kehidupannya, dibandingkan masa-masa selanjutnya.
(11)Setiap
anak memiliki dorongan untuk eksplorasi (menyelidiki), memeriksa, mencoba,
mencari hal-hal baru, belajar dengan menggunakan alat-alat indranya, serta
memuaskan rasa ingin tahunya yang sangat besar. Dorongan-dorongan ini sama
kuatnya seperti lapar, haus, menghindarkan rasa sakit dan dorongan lain yang
oleh para psikologi disebut dorongan "primer".
(12)Setiap
anak mempunyai dorongan untuk melakukan sesuatu dan belajar melakukan sesuatu.
la mencoba, mengulangi, meneliti, dan berusaha untuk menguasai lingkungannya
sebanyak mungkin, terutama demi kegembiraan yang dirasakannya dalam melakukan
kegiatan itu.
(13)Belajar
pada dasarnya bisa menyenangkan, dan anak kecil akan belajar dengan sendirinya
bila usaha-usaha mereka tidak diganggu oleh tekanan¬tekanan, persaingan,
penghargaan, hukuman, ataupun rasa takut.
(14)Semakin
banyak yang dilihat dan didengar oleh anak, semakin banyak pula yang ingin
diketahuinya. Semakin beraneka ragam rangsangan lingkungan yang pernah
dihadapinya, semakin besar pula kemampuannya untuk mengatasi atau menguasai
rangsangan-rangsangan itu.
BAB
III
KESIMPULAN
DAFTAR
PUSTAKA
Sobur,
Alex. 2003. Psikologi Umum. Bandung:
Pustaka
No comments:
Post a Comment