Friday, October 20, 2017

MAKALAH BELAJAR, BERPIKIR, DAN INTELIGENSI



BAB II
ISI
A.     Pengertian
Inteligensi berasal dari kata Latin, yaitu intellegere, yang berarti memahami. Sehubungan dengan pengertian inteligensi ini, ada yang mendefinisikan inteligensi sebagai: “Kemampuan untuk berpikir secara abstrak” (Terman); “Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya” (Colvin); ada pula yang mendefinisikan inteligensi sebagai “Intelek plus pengetahuan” (Henmon); “Teknik untuk memproses informasi yang disediakan oleh indra” (Hunt).
Berikut ini akan dikemukakan beberapa definisi yang dirumuskan oleh para ahli.
1.    S.C. Utami Munandar
Secara umum inteligensi dapat dirumuskan sebagai berikut:
a.    Kemampuan untuk berfikir abstrak;
b.    Kemampuan untuk menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar;
c.    Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.
2.    Alfred Binet
Inteligensi mempunyai tiga aspek kemampuan, yaitu:
a.    Direction, kemampuan untuk memutuskan pada suatu masalah yang harus dipecahkan.
b.    Adaptation, kemampuan untuk mengadakan adaptasi terhadap masalah yang dihadapinya atau fleksibel dalam menghadapi masalah.
c.    Criticism, kemampuan untuk mengadakan kritik, baik terhadap masalah yang dihadapi maupun terhadap dirinya sendiri.
3.    L.L. Thurstone
Ia mengemukakan teori multifaktor yang meliputi 13 faktor. Di antara ketiga belas faktor tersebut, ada 7 faktor yang merupakan faktor dasar (primary abilities), yaitu:
a.    Verbal comprehension (V)
b.    Word fluency (W)
c.    Number (N)
d.    Space (S)
e.    Memory (M)
f.     Perceptual (P)
g.    Reasoning (R)
4.    Edward Thorndike
Thorndike mengemukakan bahwa: "Intelligence is demonstrable in ability of the individual to make good responses from the stand point of truth or fact" (Inteligensi adalah kemampuan individu untuk memberikan respons yang tepat (baik) terhadap stimulasi yang diterimanya).
5.    George D. Stodard
Stodard mengartikan inteligensi, sebagai berikut: "Inteligensi adalah kecakapan dalam menyatakan tingkah laku, yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.    mempunyai tingkat kesukaran;
b.    kompleks;
c.    abstrak;
d.    ekonomis;
e.    memiliki nilai-nilai sosial;
f.     memiliki daya adaptasi dengan tujuan;
g.    menunjukkan kemurnian (original).
6.    William Stern
Stern mengemukakan bahwa: "Inteligensi merupakan kapasitas atau kecakapan umum pada individu secara sadar untuk menyesuaikan pikirannya pada situasi yang dihadapinya".
7.    Lewis Medison Terman
Menurut Terman, inteligensi terdiri atas dua faktor, yakni:
"General ability (faktor G), yaitu kecakapan umum" dan "Special ability (faktor S), yaitu kecakapan khusus". Faktor G dan faktor S bukan merupakan faktor yang terpisah, tetapi bekerja sama sebagai kesatuan yang bulat. Teori dari Terman ini dikenal dengan teori dwi faktor (two factor theory) ".
8.    Carl Whitherington
Dalam bukunya Educational Psychology, Whitherington mendefinisikan inteligensi sebagai berikut: "... exellence of performance as manifested in efficient activity" (...inteligensi adalah kesempurnaan bertindak sebagaimana dimanifestasikan dalam kemampuan-kemampuan/kegiatan-kegiatan) berikut:
a.      Facility in the use of numbers (fasilitas dalam menggunakan bilangan dan angka).
b.      Language effeciency (efisiensi penggunaan bahasa).
c.       Speed of perception (kecepatan pengamatan).
d.      Facility in memorizing (fasilitas dalam mengingat).
e.      Facility in comprehending relationship (fasilitas dalam memahami hubungan).
f.        Imagination (menghayal atau mencipta) (Effendi & Praja, 1993).
Menurut Whitherington, sebutan inteligensi atau kecerdasan sebetulnya kurang tepat. Yang lebih tepat adalah "kelakuan cerdas". Alasannya, kalau disebut inteligensi, seakan-akan inteligensi itu melekat pada badan, seperti hidung, telinga, sedangkan, menurutnya, inteligensi bukan merupakan suatu benda (substansi), melainkan suatu pengertian. Jadi, inteligensi tidak lain dari pengertian, kumpulan kelakuan yang menunjukkan hal yang cerdas.
Selanjutnya, Whitherington memberi batasan tentang pengertian, sebagai "suatu arti umum, yang diabstraksikan (ditarik) dari suatu deret atau kelompok arti khusus dalam keadaan khusus".
Pengertian itu, dalam pandangan Whitherington, mempunyai isi dan luas. Isi pengertian ialah segenap ciri-ciri hakiki (ciri yang harus ada) dari suatu pengertian. Dan, luas pengertian ialah segenap hal yang ada pada pengertian tersebut.
Dengan demikian, dapatlah disebut bahwa inteligensi adalah kesempurnaan perbuatan kecerdasan. Yang dimaksud kecerdasan ialah kecerdasan (activity) yang efisien. Dan dikatakan efisien, apabila memenuhi ketiga ciri-ciri hakiki inteligensi tadi.
B.    Ciri-Ciri
Pengertian inteligensi, menurut .Whitherington, mempunyai ciri-ciri hakiki berikut.
(1)    Cepat; makin cepat suatu pekerjaan diselesaikan, makin cerdaslah orang yang menyelesaikan.
(2) Cekatan; biasanya dihubungkan dengan pekerjaan tangan; dengan mudah dan ringkas menjelaskan sesuatu.
(3) Tepat; sesuai dengan tuntutan keadaan
Dikatakan, suatu perbuatan dapat dianggap inteligen, bila memenuhi syarat antara lain (Purwanto, 1998:54-55):
(1) Masalah yang dihadapi, sedikit banyak merupakan masalah yang baru bagi yang bersangkutan. Umpamanya, ada soal: "Mengapa api jika ditutup dengan sehelai karung bisa padam?" Apabila ditanyakan kepada anak yang baru bersekolah dan is dapat menjawab dengan betul, jawaban itu inteligen. Akan tetapi, jika pertanyaan itu dijawab oleh anak yang baru mendapat pelajaran ilmu alam tentang api, hal itu tidak dapat dikatakan inteligen.
(2) Perbuatan inteligen, sifatnya serasi tujuan dan ekonomis. Untuk mencapai tujuan yang hendak diselesaikan, dicarikan jalan yang dapat menghemat waktu maupun tenaga.
(3) Masalah yang dihadapi, harus mengandung tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan. Ada suatu masalah yang'bagi orang dewasa mudah dipecahkan atau dijawab, hampir tanpa harus berpikir; sedangkan bagi anak-anak, harus dijawab dengan berpikir. Apabila seorang anak bisa menjawab, jawaban anak itu inteligen.
(4) Keterangan pemecahannya harus dapat diterima oleh masyarakat. Misalnya, apa yang harus Anda perbuat jika Anda lapar? Kalau dijawabnya "saya harus mencuri makanan", tentu saja jawaban itu tidak inteligen.
(5) Perbuatan inteligen sering kali menggunakan daya mengabstraksi. Pada waktu berpikir, tanggapan dan ingatan yang tidak perlu, harus disingkirkan. Apakah persamaan antara jendela dan daun? Jawaban yang benar memerlukan daya mengabstraksi.
(6) Perbuatan inteligen bercirikan kecepatan. Proses pemecahannya relatif cepat, sesuai dengan masalah yang dihadapi. y
(7) Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang mengganggu jalannya pemecahan masalah yang sedang dihadapi. Apa yang akan Anda lakukan jika Anda melihat orang tertabrak mobil dan pertolongan Anda' sangat diperlukan?
Ciri-ciri tingkah laku inteligen' berikut irii, sedikit banyak bisa memperjelas atau menambah pendapat Whitherington dan pendapat Purwanto.
Menurut Effendi & Praja (1993), beberapa ciri tingkah laku yang inteligen ialah berikut ini.
(1)   Purposeful behavior, artinya tingkah laku yang inteligen, selalu torah pada tujuan atau mempunyai tujuan yang jelas.
(2)   Organized behavior, artinya tingkah laku yang terkoordinasi, semua tenaga dan alat-alat yang diperlukan dalam suatu pemecahan masalah berada dalam suatu koordinasi. Tidak acak-acakan.
(3)   Physical well toned behavior, artinya memiliki sikap jasmaniah yang baik, penuh tenaga dan tangkas atau lincah.
(4) Adaptable behavior, artinya tingkah laku yang luas fleksibel, tidak statis dan kaku, tetapi selalu siap untuk mengadakan penyesuaian/perubahan terhadap situasi yang baru.
(5)   Success oriented behavior, artinya tingkah laku yang didasari perasaan aman, tenang, gairah, dan penuh kepercayaan akan sukses/optimis.
(6)   Clearly motivated behavior, artinya tingkah laku yang dapat memenuhi kebutuhannya dan bermanfaat bagi orang lain atau masyarakat.
(7) Rapid behavior, yaitu tingkah laku yang efisien, efektif, dan cepat atau menggunakan waktu yang singkat.
(8) Broad behavior, yaitu tingkah laku yang mempunyai latar belakang dan pandangan luas yang meliputi sikap dasar serta jiwa yang terbuka.
C.    Hubungan Inteligensi dengan Kreativitas
Kreativitas merupakan suatu bidang kajian yang sulit, yang menimbulkan perbedaan pandangan. Biasanya, perbedaan itu terletak pada definisi kreativitas, kriteria perilaku kreatif, proses kreatif, hubungan kreativitas dan inteligensi, karakteristik orang kreatif, korelat-korelat kreativitas, dan upaya untuk mengembangkan kreativitas. Tidak ada satu definisi pun . yang dianggap dapat mewakili pemahaman yang beragam tentang kreativitas. Hal ini disebabkan dua alasan. Pertama, sebagai suatu "konstruk hipotesis", kreativitas merupakan ranah psikologis yang kompleks dan multidimensional, yang mengandung berbagai tafsiran yang beragam. Kedua, definisi kreativitas memberikan tekanan yang berbeda-beda, bergantung pada dasar teori yang menjadi acuan pembuat definisi (Supriadi, 1994:6).
Dilihat dari segi penekanannya, definisi kreativitas dapat dibedakan dalam dimensi person, proses, produk, dan press. Rhodes (1961) menyebut keempat dimensi kreativitas tersebut sebagai "the Four P's of Creativity". Definisi kreativitas yang menekankan dimensi person dikemukakan, misalnya, oleh Guilford (1950): "Creativity refers to the abilities that are characteristics of creative people". Definisi yang menekankan segi proses diajukan oleh Munandar'(1977): "Creativity is a process that manifests itself influency, inflexibility as well in originality of thinking". Definisi yang menekankan segi produk, dikemukakan oleh Barron (1976) yaitu: "the ability to bring something new into existence". Segi produk ini juga ditekankan oleh Semiawan dan kawan-kawan (1984), yakni : "Kemampuan untuk menciptakan suatu produk baru. Tidak perlu seluruh produk yang harus baru, mungkin saja gabungannya, kombinasinya, sedangkan unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya". Sementara, Amabile (1983), seperti dikutip Supriadi (1994), mengemukakan, "Creativity can be regarded as the quality of products or responses judged to be creative by appropriate observers".
D.    Tes Inteligensi
Tes inteligensi adalah tes yang bertujuan mengukur inteligensi -dan inteligensi adalah apa yang diukur oleh tes inteligensi. Kita dapat memutuskan lingkaran yang membingungkan ini dengan meninjau perkembangan tes inteligensi (tes IQ) untuk melihat apa yang dimaksudkan ahli psikologi dengan perilaku cerdas.
Pada tahun 1933, seorang ahli psikologi berkebangsaan Inggris, Cyril Burt, menulis (Silva & Hunt, 1986): Melalui inteligensi, ahli psikologi bisa memahami kemampuan intelektual keseluruhan yang dibawa sejak lahir. Kemampuan tersebut diwariskan, atau paling tidak bawaan, tidak ada kaitannya dengan pengajaran atau pelatihan; kemampuan itu intelektual, bukan emosional atau moral, dan tidak terpengaruh oleh kerajinan atau semangat; kemampuan tersebut umum, tidak khusus, yaitu tidak terbatas pada jenis pekerjaan tertentu, tetapi masuk ke dalam semua yang kita lakukan, atau kita katakan, atau kita pikirkan. Dari semua kualitas mental kita, inilah yang paling jauh jangkauannya. Untunglah kemampuan itu dapat diukur dengan tepat dan mudah.
Untuk menghasilkan kualitas tes yang baik, memang diperlukan metode pengukuran yang signifikan. Hasilnya harus tidak bersifat kebetulan.
Sternberg (1985), seperti dikutip Rita L. Atkinson dan kawan-kawan, dalam upaya menggeneralisasikan pendekatannya, berpendapat bahwa teori komprehensif tentang inteligensi melibatkan proses komponen yang jauh lebih besar dari yang ditemukan oleh ahli psikologi masa lalu, yang bekerja di lingkungan laboratorium yang terbatas, atau dalam situasi tes yang tipikal. Sternberg menyatakan bahwa komponen yang lebih besar ini berhubungan bukan hanya dengan "inteligensi akademik", tetapi juga "inteligensi praktis". Komponen ini dapat disusun dalam empat kelompok, yang dapat dilabel secara kasar sebagai berikut:
(1)     Kemampuan untuk berpikir dan mengambil pelaj aran dari pengalaman.
(2)     Kemampuan untuk berpikir atau menalar secara abstrak.
(3)     Kemampuan untuk beradaptasi dengan hal-hal yang timbul dari dunia yang selalu berubah dan tidak pasti.
(4)     Kemampuan untuk memotivasi diri sendiri guna menyelesaikan secara tepat tugas-tugas yang perlu diselesaikan.
E.     Perkembangan dan Penggunaan Tes Inteligensi
Charles Darwin sebagai seorang naturalis dan ahli matematika, Galton yakin bahwa keluarga tertentu secara biologis adalah unggul - Iebih kuat dan lebih cerdas - dibandingkan keluarga lain. Inteligensi, menurutnya, adalah masalah keterampilan sensorik-perseptual yang luar biasa, yang diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Karena semua informasi didapatkan melalui indra, semakin sensitif dan akurat alat persepsi seseorang, semakin cerdas orang itu.
Galton mendasarkan tes inteligensinya pada asumsi bahwa keunggulan inteligensi seseorang tercermin dalam keunggulan kekuatan fisiknya. Dengan demikian, variabel yang diukur dalam tes inteligensinya adalah ukuran batok kepala, ketajaman penglihatan, ingatan terhadap bentuk visual, kemampuan bernafas, dan kekuatan genggaman tangan.
Berikut ini merupakan beberapa contoh item dari skala yang asli, yang diterbitkan tahun 1908, yang menunjukkan jenis-jenis kemampuan yang dianggap rata-rata bagi anak-anak pada tingkatan umur tiga dan tujuh tahun (Mahmud, 1990):
Umur 3 (tiga) tahun:
a.  kemampuan menunjuk hidung, mata, mulut;
b.  mengulang-ulang dua angka;
c.  kemampuan menyebut nama akhir;
d.  memberi nama pada objek-objek pada sebuah gambar;
e.  mengulang-ulang kalimat yang terdiri atas enam suku kata.
Umur 7 (tujuh) tahun:
a.  kemampuan memberi nama pada sesuatu yang hilang dalam gambar - gambar yang sudah dikenal, tetapi belum selesai;
b.  mengetahui jumlah jari tangan kanan dan kiri tanpa menghitungnya;
c.  kemampuan mencontoh jajaran genjang;
d.  mengulang lima angka;
e.  menghitung tiga belas sen;
f.   mengetahui nama empat macam uang logam.
Lewis Terman tetap mempertahankan konsep Binet mengenai usia mental. Setiap butir tes disesuaikan dengan usia pada tingkat yang sebagian besar anak menempuhnya. Usia mental anak didapatkan dengan menjumlahkan banyak butir soal yang dijawab secara tepat pada tiap tingkat usia. Di samping itu, Terman menerapkan indeks inteligensi praktis, yang disarankan oleh ahli psikologi Jrman, William Stern. Indeks ini adalah intellegence quotient, yang lazim dikenal sebagai IQ. Indeks ini mengekspresikan inteligensi sebagai rasio usia mental (MA) terhadap usia kronologis (CA):
IQ =  X 100
100 digunakan sebagai pengali, sehingga IQ memiliki nilai 100 jika MA sama dengan CA. Jika MA lebih rendah dari CA, maka IQ lebih kecil dari 100; jika MA lebih tinggi dari CA, maka IQ lebih tinggi dari 100.
Berikut adalah contoh tipikal soal dari Stanford-Binet Intelligence Scale, revisi 1986, untuk anak usia 6 sampai 8 tahun, yang dikelompokkan menurut bidangnya, sebagaimana dikutip Rita L. Atkinson dan kawan-kawan, dalam buku mereka, Introduction to Psychology:
a.  Penalaran verbal,
1) Perbendaharaan kata (vocabulary):
2) Pemahaman (comprehension):
3) Keganjilan (absurdities):
4) Hubungan verbal (verbal relation)
b. Penalaran Kuantitatif
1) Kuantitatif (quantitative)
2) Urutan angka (number series)
3) Membentuk persamaan (equation building)
c. Penalaran Abstrak/Visual
1) Analisis pola (pattern analysis)
2) Mencontoh gambar (copying)
d. Memori Jangka Pendek
1) Mengingat bentuk (bead memory)
2) Mengingat kalimat (memory for sentences)
3) Mengingat angka (memory for digits)
4) Mengingat benda (memory for objects)
Selanjutnya, beberapa ciri dari tiap-tiap tingkat inteligensi tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut (Mahmud, 1990; Effendi & Praia, 1993):
a. Cacat Mental (Mentally Deficient/Feeble Minded)
Ciri-ciri umum dari orang yang cacat mental adalah:
(1) tidak dapat mengurus dan memenuhi kebutuhannya sendiri;
(2) kelambatan mental sejak lahir;
(3) kelambatan dalam kematangan;
(4) pada dasarnya tidak _ dapat diobati.
b. Idiot (IQ 0 - 19)
Idiot (idiocy) adalah suatu istilah yuridis dan paedagogis, yang diperuntukkan bagi mereka yang lemah pikiran tingkat paling rendah.
Ciri-ciri umum idiocy, antara lain:
(1)   Fisiknya lemah, tidak tahan terhadap penyakit, dan tidak mengenal bahaya, karena itu, orang-orang semacam ini umurnya tidak panjang.
(2)   Beberapa idiot dapat belajar berjalan, tetapi pada umumnya mereka tidak mampu dan harus tetap tinggal berbaring selama hidupnya.
(3) Tidak mengenal rasa senang dan rasa sakit.
(4) Tidak bisa berbicara dan hanya mengenal beberapa kata saja.
(5)   Tidak mampu mengurus diri sendiri, sehingga mereka harus dibantu dalam hal mandi, berpakaian, dan buang air, meskipun menurut umurnya sudah "dewasa".
(6)   Ada yang garang dan bersifat destruktif, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap sekelilingnya.
c. Embicile (IQ 20 - 49)
Ciri-ciri umum embicile, di antaranya:
(1) Tidak dapat dididik di sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak normal.
(2) Walaupun dapat mengurus dirinya sendiri, mereka masih memerlukan pengawasan yang teliti dan memerlukan kesabaran.
(3)     Pada waktu bayi, mereka sangat tidak responsif dan apatis sekali.
(4)     Mereka umumnya baru bisa berjalan sendiri pada umur tiga atau empat tahun, dan baru pada umur lima tahun mereka berbicara.
(5)     Kebiasaan makan dan keberhasilannya terbelakang tiga sampai empat tahun.
(6)     Mereka dapat diajari mengenal bahaya, seperti bahaya api, bahaya tenggelam di air yang dalam, dan sebagainya.
d. Moron (IQ 50 - 69)
Ciri-ciri moron adalah:
(1)     Di sekolah, mereka jarang bisa mencapai lebih dari kelas lima.
(2)     Sampai pada tingkat tertentu, mereka dapat belajar membaca, menulis dan berhitung dalam perhitungan-perhitungan yang sederhana.
(3)     Mereka dapat mempelajari pekerjaan-pekerjaan rutin dan bisa terus-menerus melakukan pekerjaan itu selama tidak mengalami perubahan-perubahan yang berarti.
(4)     Angka pelanggaran hukum adalah tertinggi di antara gadis-gadis yang moron; para pencuri dan pelacur sering berasal dari golongan moron ini.
(5)     Mereka juga memiliki dorongan, keinginan, dan emosi yang normal, tetapi tidak mempunyai kecerdasan untuk mengontrol atau meramalkan akibat-akibat perbuatannya.
e. Inferior (IQ 70 - 79)
Ini merupakan kelompok tersendiri dari individu-individu terbelakang. Kecakapan pada umumnya hampir sama dengan kelompok embicile, namun kelompok ini mempunyai kecakapan tertentu yang melebihi kecerdasannya; misalnya dalam bidang musik.
f. Bodoh (IQ 80 - 89)
Pada umumnya kelompok ini agak lambat dalam mencema pelajaran di sekolah. Meskipun demikian, mereka dapat menyelesaikan pendidikannya pada tingkat SLT1 namun agak sulit untuk menyelesaikan pendidikan SLTA.
g. Normal/Rata-rata (IQ 90 - 109)
Kelompok ini merupakan kelompok yang terbesar persentasenya di antara populasi. Mereka mempunyai IQ yang sedang, normal, atau rata-rata.
h. Pandai (IQ 110 - 119)
Kelompok ini pada umumnya mampu menyelesaikan pendidikan tingkat universitas. atau perguruan tinggi. Jika bersatu dengan kelompok normal, mereka biasanya merupakan "repid learner" atau "giveted", yaitu pemimpin dalam kelasnya.
i. Superior (IQ 120 - 129)
Ciri-ciri dari kelompok superior ini, antara lain: lebih cakap dalam membaca, berhitung; perbendaharaan bahasanya luas, cepat memahami pengertian yang abstrak, dan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibanding dengan orang-orang yang termasuk kelompok pandai. Demikian pula dengan kesehatan dan ketahanannya lebih baik daripada orang-orang normal.
j. Sangat Superior (IQ 130 - 139)
Kelompok ini termasuk kelompok superior yang berbeda pada tingkat rertinggi dalam kelompok tersebut. Umumnya, tidak ada perbedaan yang mepcolok dengan kelompok superior.
k. Gifted (IQ 140 - 179)
Yang termasuk dalam golongan ini ialah mereka yang tidak genius, retapi menonjol dan terkenal. Bakatnya sudah tampak sejak kecil dan prestasinya, biasanya, melebihi teman sekelasnya. Jika dibandingkan dengan crang normal, adjustment-nya terhadap berbagai problem hidup lebih baik. Sekitar 80 Persen di antara mereka ini dapat menyelesaikan studi di perguruan tinggi dengan prestasi yang memuaskan. Jabatan yang dipegangnya ptm banyak, dan jarang sakit atau meninggal dunia pada usia muda.
l. Genius (IQ 180 ke atas)
Pada kelompok ini, bakat dan keistimewaannya telah tampak sejak kecil. Misalnya, umur dua tahun mulai belajar membaca, dan pada umur empat tahun belajar bahasa asing. Kelompok ini mempunyai kecerdasan yang sangat luar biasa. Walaupun tidak sekolah, mereka mampu menemukan dan rzmecahkan suatu masalah. Jumlahnya sangat sedikit, namun terdapat pada semua ras dan bangsa, semua jenis kelamin, serta dalam semua tingkatan anato nomi. Contoh orang-orang jenius, antara lain: John Stuart Mill (IQ 200), Francis Galton (IQ 200), dan Goethe (IQ 185). Para psikolog klinis umumnya -berpendapat bahwa mereka akan mengalami problem-problem khusus dalam perembangan sosial dan emosinya.
F.    Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Perubahan Inteligensi
(1)  Anak tidak memiliki taraf kecerdasan yang sudah terbentuk dan tidak juga memiliki tempo perkembangan yang tidak bisa diubah. Lingkungan dapat meningkatkan ataupun menurunkan taraf kecerdasan anak, terutama pada masa-masa permulaan kehidupannya.
(2)  Rangsangan di masa kecil bisa mengubah ukuran dan fungsi kimiawi dari otak.
(3)  Faktor keturunan menentukan batas tertinggi bagi taraf kecerdasan anak tetapi batas ini demikian tinggi sehingga para sarjana yakin, tidak seorang manusia pun yang pernah mencapainya.
(4)  Perubahan-perubahan dalam kemampuan mental, paling besar terjadi pada saat otak mengalami pertumbuhan yang paling pesat. Sementara, pertumbuhan otak semakin menurun dengan bertambahnya umur.
(5)   Pada umur 4 tahun, anak telah mencapai separuh dari kemampuan kecerdasannya, dan pada umur 8 tahun, is mencapai 80%. Setelah umur 8 tahun, tanpa melihat bentuk pendidikan dan lingkungan yang diperoleh anak, kemampuan kecerdasannya hanya dapat diubah sebanyak 20%.
(6)  Cortex dari otak seorang anak secara kasar dapat dibandingkan dengan sebuah komputer, yang perlu diberi "program" sebelum dapat bekerja secara efektif. Anak memberi program pada otaknya dengan jalan mengirimkan rangsangan-rangsangan sensorik yang berasal dari mata, telinga, hidung, mulut, dan perabaan ke otak melalui saraf-saraf. Lebih banyak rangsangan sensorik yang merangsang otak, lebih besar pula kemampuan otak untuk berfungsi secara cerdas.
(7)  Ada suatu batas waktu ketika sel-sel otak tidak dapat digiatkan lagi dengan mudah.
(8)  Terdapat masa-masa peka pada kehidupan anak terhadap beberapa jenis belajar. Masa peka ini merupakan tingkatan dalam perkembangan ketika keadaan otak sedang tumbuh, sehingga memudahkan anak untuk melakukan beberapa jenis belajar tertentu. Setelah masa peka ini lewat, anak akan sulit atau kadang-kadang tidak mungkin lagi, melakukan jenis belajar tersebut.
(9)  Dalam perkembangan bicara, tercakup di dalamnya faktor kecerdasan. Belajar berbicara dengan baik, sebenarnya cukup sulit, tetapi anak¬anak berhasil melakukannya sebelum umur 5 tahun.
(10)Sifat fisiologis otak memungkinkan anak lebih mudah belajar bahasa kedua, atau ketiga, pada tahun-tahun pertama dari kehidupannya, dibandingkan masa-masa selanjutnya.
(11)Setiap anak memiliki dorongan untuk eksplorasi (menyelidiki), memeriksa, mencoba, mencari hal-hal baru, belajar dengan menggunakan alat-alat indranya, serta memuaskan rasa ingin tahunya yang sangat besar. Dorongan-dorongan ini sama kuatnya seperti lapar, haus, menghindarkan rasa sakit dan dorongan lain yang oleh para psikologi disebut dorongan "primer".
(12)Setiap anak mempunyai dorongan untuk melakukan sesuatu dan belajar melakukan sesuatu. la mencoba, mengulangi, meneliti, dan berusaha untuk menguasai lingkungannya sebanyak mungkin, terutama demi kegembiraan yang dirasakannya dalam melakukan kegiatan itu.
(13)Belajar pada dasarnya bisa menyenangkan, dan anak kecil akan belajar dengan sendirinya bila usaha-usaha mereka tidak diganggu oleh tekanan¬tekanan, persaingan, penghargaan, hukuman, ataupun rasa takut.
(14)Semakin banyak yang dilihat dan didengar oleh anak, semakin banyak pula yang ingin diketahuinya. Semakin beraneka ragam rangsangan lingkungan yang pernah dihadapinya, semakin besar pula kemampuannya untuk mengatasi atau menguasai rangsangan-rangsangan itu.
BAB III
KESIMPULAN



DAFTAR PUSTAKA
Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka

No comments:

Post a Comment