BAB
I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang
Secara factual, bahwasannya di dalam emosi terkandung
perasaan yang di miliki oleh setiap orang. Oleh karena itu pembicaraan tentang
emosi dan perasaan tidak pernah lepas dari unsur manusia. Dari beberapa
pendapat tentang emosi dan perasaan yang di kemukakan oleh para ahli pada
umumnya sepakat bahwa perasaan itu di artikan sebagai keadaan yang dirasakan
sedang terjadi dalam diri seseorang dan sedangkan emosi terjadi hanya ketika
seseorang merasakan sesuatu terjadi dalam dirinya.
Pada dasarnya emosi dan perasaan itu
keduanya relatif sama. Perasaan yang diartikan emosi adalah perasaan yang tidak
terkait dengan yang dirasakan fisik. Sedangkan menurut seorang peneliti emosi
dari Australia National University, yakni, Anna Wierzbicka, tidak semua
budaya memiliki kata untuk emosi sebagaimana yang di konsepkan dalam bahasa
Inggris sedangkan kata yang bermakna perasaan (feeling) ada dalam semua
bahasa. Menurutnya, kata emosi lebih disukai karena kesannya lebih objektif dan
lebih ilmiah dari pada kata perasaan. Oleh sebab itu kata emosi lebih luas
digunakan dalam dunia ilmu pengetahuan.
2.
Tujuan
a. Mengetahui pengertian perasaan.
b. Mengetahui macam-macam perasaan.
c. Mengetahui apa yang dimaksud dengan emosi.
3.
Rumusan Masalah
1.
Apakah definisi dari perasaan dan
emosi?
2.
Jelaskan sifat-sifat dari perasaan?
3.
Komponen-komponan apa saja yang ada
dalam emosi?
4.
Jelaskan perasaan-perasaan yang
disertai dengan emosi?
5.
Apa perbedaan emosi dan perasaan?
BAB
II
ISI
1.
Perasaan
Perasaan atau dalam istilah lain disebut “Renjana” adalah gejala psikis
yang memiliki sifat khas subjektif yang berhubungan dengan pertiepsi dan
thalami sebagai rasa senang-tidak senang, sedih-gembira dalam berbagai derajat
dan tingkatannya.Setiap individu memiliki intensitas atau derajat perasaan yang
berbeda walaupun menghadapi stimulus yang sama. Kualitas perasaan ditentukan
oleh perasaan senang-tidak senang, gembira sedih, dan simpati-antipati.
Bigot telah memberikan ikhtisar mengenai macam-macam perasaan itu yang
kiranya sangat berguna sebagai rangka pembicaraan. Adapun ikhtisar
tersebut adalah sebagai berikut :
a.
Perasaan-perasaan jasmaniah (rendah)
1.
Perasaan-perasaan indriah, yaitu
perasaan-perasaan yang berhubungan dengan perangsangan terhadap pancaindera
seperti misalnya, sedap, manis, asin, pahit, panas dan sebagainya.
2.
Perasaan vital, yaitu
perasaan-perasaan yang berhubungan dengan keadaan jasmani pada umumnya,
seperti misalnya perasaan-perasaan segar, letih, sehat, lemah, tak berdaya, dan
sebagainnya.
b.
Perasaan-perasaan rohaniah :
1.
Perasaan intelektual
Perasaan intelektual ialah perasaan yang bersangkutan dengan kesanggupan
intelek (pikiran) dalam menyelesaikan problem-problem yang dihadapi. Misalnya
rasa senang yang dialami oleh seseorang yang dapat menyelesaikan soal ujian
(perasaan intelektual positif), atau perasaan kecewa yang dialami oleh
seseorang yang sama sekali tak dapat ang mengerjakan soal ujian.
2.
Perasaan kesusilaan
Perasaan kesusilaan atau disebut juga perasaan etis ialah perasaan tentang
baik buruk. Perasaan kesusilaan itu ada dua macam, yaitu positif dan negatif.
Perasaan kesusilaan yang positif misalnya dialami sebagai rasa puas kalau orang
telah melakukan hal yang baik, dan yang negatif misalnya dialami sebagai rasa
menyesal kalau orang telah melakukan hal yang tidak baik.
3.
Perasaan keindahan
Perasaan keindahan yaitu perasaan yang menyertai atau yang timbul karena
seseorang menghayati sesuatu yang indah atau tidak indah.
4.
Perasaan sosial
Perasaan sosial ialah perasaan yang mengikatkan individu dengan sesama
manusia, perasaan hidup bermasyarakat dengan sesama manusia untuk saling
bergaul, saling tolong menolong, memberi dan menerima simpati dan antipati,
rasa setia kawan,dan sebagainya.
5.
Perasaan harga diri
Perasaan harga diri ini dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu perasaan
harga diri yang positif dan perasaan harga diri yang negatif. Perasaan harga
diri yang positif misalnya perasaan puas, senang, gembira, bangga. Sedangkan
perasaan harga diri negatif misalnya perasaan kecewa, tak senang, tak berdaya,
kalau seseorang mendapat celaan, dimarahi, mendapatkan hukuman dan sebagainya.
6.
Perasaan keagamaan
Perasaan keagamaan yaitu perasaan yang bersangkut paut dengan kepercayaan
seseorang tentang adanya Yang Maha Kuasa seperti misalnya rasa kagum akan
kebesaran Tuhan, rasa syukur setelah lepas dari marabahaya secara ajaib, dan
sebagainya.
2.
Emosi
Menurut English and English, emosi adalah “A complex
feeling state accompained by characteristic motor and glandular activies“
(suatu keadaan yang kompleks yang disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan
motoris). Sedangkan Sarlito Wirawan Sarwono berpendapat bahwa emosi merupakan
“setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada
tingkatan lemah (dangkal) maupun pada tingkatan yang luas
(mendalam)”.
Menurut Alex Sobur, ada 3 teori dalam emosi, teori-teori
tersebut adalah sebagai berikut :
1.
Teori Emosi Dua-Faktor Schachter dan
Singer
Reaksi fisiologik dapat saja sama
(hati berdebar, tekanan darah naik, nafas bertambah cepat, adrenalin dialirkan
dalam darah, dan sebagainya), namun jika rangsangannya menyenangkan emosi yang
timbul dinamakan senang. Sebaliknya, jika rangsangannya membahayakan , emosi
yang timbul dinamakan takut.
2.
Teori Emosi James-Lange
Menurut teori ini, emosi adalah hasil
persepsi seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagi
respons terhadap berbagai rangsangan yang datang dari luar. Contohnya saat
seseorang melihat harimau, reaksinya
peredaran darah semakin cepat karena denyut jantung semakin cepat, paru-paru lebih cepat memompa
udara. Respons-respons tubuh ini kemudian dipersepsikan dan timbullha rasa
takut.
3.
Teori “Emergency” Cannon
Cannon mengatakan, bahwa organ dalam
umumya terlalu insensitive dan terlalu dalam responsnya untuk bisa mejadi dasar
berkembangnya dan berubahnya suasana
emosional yang sering kali berlangsung demikian cepat. Meskipun begitu, ia
sebenarnya beranggapan bahwa organ dalam merupakan satu-satunya factor yang
menentukan suasana emosional. Teori ini menyebutkan emoosi timbul bersama-sama
dengan reaksi fisiologik.
Perkembangan Emosi
Dalam pertumbuhan normal, hubungan-hubungan saraf itu
berkembang didalam otak baru dan diantara otak baru dan otak lama. Disaat
kematangan itu tumbuh , respons-respons emosional berkembang melalui empat
jalan. Hal ini sesuai dengan empat aspek emosi, yaitu: 1. Stimulus, 2.
Perasaan, 3. Respons-respon internal, dan 4. Pola-pola tingkah laku.
Menurut Jersild (1954), perkembangan emosi selama masa
kanak-kanak terjalin sangat eratnya dengan aspek perkembangan yang lain.
Setelah alat-alat indra anak menjadi lebih tajam, kecakapan untuk anak untuk
mengenal perbedaan-perbedaan dan untuk melakukan pengamatan pun menjadi lebih
dewasa, dan setelah ia melangkah kedepan dalam segala aspek perkembangannya,
jumlah peristiwa yang bisa membangkitkan emosinya pun kian bertambah besar.
Atas dasar arah aktivitasnya, tingkah laku emosional dapat
dibagi menjadi empat macam, yaitu (1) marah, orang bergerak menentang
sumber frustasi; (2) takut, orang bergerak meninggalkan sumber frustasi; (3)
cinta, orang bergerak menuju sumber kemenangan; (4) depresi, orang menghentikan
respon-respon terbukanya dan mengalihkan emosi ke dalam dirinya sendiri.
Dari hasil penelitiannya, John B. Watson menemukan bahwa
tiga dari keempat emosional tersebut terdapat pada anak-anak, yaitu : takut,
marah dan cinta.
1.
Takut
Pada dasarnya, rasa takut itu bermacam-macam. Ada yang
timbul karena seorang anak kecil memang ditakut-takuti atau karena berlakunya
berbagai pantangan di rumah. Misalnya saja, rasa takut akan tempat gelap, takut
berada di tempat sepi tanpa teman, atau takut menghadapi hal-hal asing yang
tidak di kenal. Kengerian-kengerian ini relatif lebih banyak diderita oleh
anak-anak daripada orang dewasa. Karena, sebagai insan yang masih muda, tentu
saja daya tahan anak-anak belum kuat.
Jika dilihat dari secara objektif, bisa dikatakan bahwa
rasa takut selain mempunyai segi-segi negatif, yaitu bersifat
menggelorakan dan menimbulkan perasaan-perasaanan gejala tubuh yang
menegangkan, juga ada segi positifnya.
Ada beberapa cara untuk mengatasi rasa takut pada anak. Pertama,
ciptakanlah suasana kekeluargaan/lingkungan sosial mampu menghadirkan rasa
keamanan dan rasa kasih sayang. Kedua, berilah penghargaan terhadap
usaha-usaha anak dan pujilah bila perlu. Ketiga, tanamkanlah pada anak
bahwa ada kewajiban sosial yang perlu ditaati. Keempat, tumbuhkanlah pada diri anak kepercayaan serta keberanian
untuk hidup; jauhkanlah ejekan dan celaan.
2.
Marah
Pada umumnya, luapan kemarahan lebih sering terlihat pada
anak kecil ketimbang rasa takut. Bentuk-bentuk kemarahan yang banyak kita hadapi
adalah pada anak yang berumur 4 tahun. Pada anak-anak yang masih kecil,
kemarahan bisa ditimbulkan oleh adanya pengekangan yang dipaksakan, gangguan
pada gerak-geriknya, hambatan pada kegiatan-kegiatan yang sedang dilakukan,
oleh segala sesuatu yang menghalang-halangi keinginan seorang anak.
Dalam sebuah studi yang dilakukan Goodenough, terdapat cukup bukti yang
memperlihatkan bahwa anak-anak lebih mudah menjadi marah apabila pada malam
sebelumnya mereka tidak cukup beristirahat.
Navaco pula mengemukakan bahwa amarah “bisa dipahami sebagai reaksi
tekanan perasaan”
3.
Cinta
Apakah cinta? sesungguhnya betapa sulitnya kita menjelaskan
kata yang satu ini. Sama halnya ketika kita harus mendefinisikan ihwal
kebahagiaan.
Namun, yang digambarkan Syauqi Bey di atas adalah cinta
romantis, yaitu cinta waktu pacaran yang kadang-kadang berakhir putus setelah
puas bertemu dalam memadu cinta, tidak sampai meningkat ke jenjang pernikahan.
Dalam bukunya The Art of Loving (Seni Mencinta),
Erich Fromm sedemikian jauh telah berbicara tentang cinta sebagai alat
mengatasi keterpisahaan manusia, sebagai pemenuh kerinduan akan kesatuan. Akan
tetapi, di atas kebutuhan eksitensi dan menyeluruh itu, timbul suatu kebutuhan
biologis, yang lebih spesifik yaitu keinginan untuk menyatu antara kutub-kutub
jantan dan betina. Ide pengutuban ini diungkapkan dengan paling mencolok dalam
mitos bahwa pada mulanya laki-laki dan wanita adalah satu, kemudian mereka
dipisahkan menjadi setengah-setengah, dan sejak itu sampai seterusnya, setiap
lelaki terus mencari belahan wanita yang hilang dari dirinya untuk bersatu
kembali dengannya.
3.
Hubungan antara Perasaan dan Emosi
Menurut pandangan Dirgagunarsa, perasaan (feeling)
mempunyai dua arti. Ditinjau secara fisiologis, perasaan berarti pengindraan, sehingga
merupakan salah satu fungsi tubuh untuk mengadakan kontak dengan dunia
luar. Dalam arti psikologis, perasaan mempunyai fungsi menilai, yaitu penilaian
terhadap suatu hal. Makna penilaian ini tampak, misalnya, dalam ungkapan
berikut: “Saya rasa nanti sore akan hujan”. Ungkapan itu berarti bahwa
menurut penilaian saya, nanti sore hari akan hujan.
Di lain pihak, emosi mempunyai arti yang agak berbeda. Di
dalam pengertian emosi sudah terkandung unsur perasaan yang mendalam (intese).
Perkataan emosi sendiri berasal dari perkataan “emotus” atau “emovere” yang
artinya mencerca (to stir up), yaitu sesuatu yang mendorong terhadap sesuatu.
4.
Perbedaan
antara Perasaan dan Emosi
Perbedaan antara perasaan dan emosi tidak dapat dinyatakan
dengan tegas, karena keduanya merupakan suatu kelangsungan kualitas yang tidak
jelas batasnya. Pada suatu saat tertentu, suatu warna efektif dapat dikatakan
sebagai perasaan, tetati juga dikatakan sebagai emosi. Oleh karena itu, yang
dimaksudkan dengan emosi di sini bukan terbatas pada pada emosi atau perasaan
saja, tetapi meliputi setiap keadaan pada setiap diri seseorang yang disertai
dengan warna efektif, baik pada tingkat yang lemah (dangkal) maupun pada
tingkat yang kuat (mendalam).
BAB III
KESIMPULAN
Berlainan dengan berfikir, maka
perasaan itu bersifat subyektif, banyak dipengaruhi oleh keadaan diri
seseorang. Perasaan umumnya bersangkutan dengan fungsi mengenal artinya
perasaan dapat timbul karena mengamati, menanggap, menghayalkan,
mengingat-ingat, atau memikirkan sesuatu. Kendati pun demikian perasaan
bukanlah hanya sekedar gejala tambahan daripada fungsi pengenalan saja,
melainkan adalah fungsi tersendiri.
Adapun macam-macam perasaan tersebut
diantaranya yaitu;
a) Perasaan-perasaan jasmaniah (rendah)
1)
Perasaan-perasaan indriah
2)
Perasaan vital
b) Perasaan -perasaan rohaniah
1)
Perasaan keagamaan
2)
Perasaan intelektual
3)
Perasaan kesusilaan
4)
Perasaan keindahan
5)
Perasaan sosial
6)
Perasaan harga diri
Emosi adalah suatu keadaan yang komplek yang disertai karakteristik
kegiatan kelenjar yang motoris. Dan perasaan didefinisikan sebagai gejala
psikis yang bersifat subyektif yang umumnya berhubungan dengan gejala-gejala
mengenal, dan dialami dalam kualitas senang atau tidak senang dalam berbagai
taraf. Atas dasar arah aktivitasnya, tingkah laku emosional dapat dibagi menjadi
empat macam, yaitu; marah, takut, cinta dan depresi.
DAFTAR
PUSTAKA
Sobur Alex, Psikologi Umum. 2003. Bandung: Pustaka Setia.
No comments:
Post a Comment